Pesona Gunung Api Purba Nglanggeran dan Air Terjun Sri Gethuk

Hari ketiga di Jogja, 24 April 2017. Karena kami langsung check-out dari penginapan dan repot bawa barang bawaan, kami menyewa mobil lewat situs online. Nama rental nya Salsabil* dengan harga sewa Rp. 525.000 sudah termasuk sopir dan BBM.
Sesuai janji, jam 8 pagi mobil yang kami sewa sudah standby. Tujuan awalnya adalah Pantai Sinden di Gunung Kidul, rencananya naik jembatan gantung ke Pulau Kalong. Tapi sesuai info driver kami (juga cek di Google Map) waktu tempuh ke sana adalah 2.5jam kalau lancar.
Setelah mempertimbangkan waktu, kami memutuskan ke Gunung Api Purba Nglanggeran yang masih di Gunung Kidul dengan waktu tempuh 1 jam. Tidak ada halangan dan rintangan menuju Gunung ini karena kondisi jalannya bagus dan petunjuk arah yang lengkap apalagi drivernya juga sudah tahu lokasi yang kami tuju.
Melewati jalan Wonosari-Piyungan hingga akhirnya kami sampai ke lokasi sekitar jam 9.30. Sebelum memasuki lokasi, di sebuah pertigaan ada penunjuk arah, ke kanan ke Air Terjun Kedung Kandang dan ke kiri ke Gunung Nglanggeran. Sepertinya kami gak akan sempat ke air terjun, mungkin lain kali.
Sesudah parkir ditempat yang sudah tertata rapi, kami langsung meuju loket masuk. Biaya karcis masuk Rp. 15.000/orang. Di sini kami mampir dulu ke toilet yang bersih karena di atas gak bakalan ada toilet hehehehe.
Setelah dari toilet kami langsung mendaki melewati jalan setapak yang sudah rapi berupa jalan batu/semen. Hari ini mesti liburan, tidak banyak pengunjung yang terlihat. 
 
Di awal-awal perjalanan kami melewati Lorong Sempit 1, ya... lorong sempit yang terdapat diantara dua batu yang  bisa dilewati oleh satu orang. 
  
Lorong Sempit 1
Lorong Sempit 1
 
Selepas lorong ini kita akan menemukan area pandang. Disini kita bisa melihat view ke bawah, terlihat hamparan hijau sejauh mata memandang. 
 
Oh iya, di sini di area-area tertentu terdapat tulisan-tulisan yang dibuat pengelola yang isinya menggelitik dan juga buat penambah semangat hahahaha....
Selanjutnya kami melewati pertigaan, 2 jalur sama-sama menuju puncak, tapi jalur kiri juga bisa untuk turun. Nah kami mengambil jalur kanan. Di jalur ini kami melewati Lorong Sempit 2. Lorong ini lebih sempit dan gelap dibanding yang pertama. Nah, baru sampai di tengah tiba-tiba Revan berhenti katanya ada ular. Jadilah kita keluar lagi. Ragu-ragu unutk melanjutkan ke jalur ini akhirnya kami melanjutkan perjalanan, kali ini saya yang di depan, dimulai dengan Bismillah ya....
Lorong Sempit 2
Sampai di ujung lorong, ternyata ularnya nangkring di pohon, nunggu sebentar sampai dia pergi akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Di sini ada gardu pandang lagi, kita bisa melihat view ke bawah lagi.
Melanjutkan perjalanan, kali ini melewati lebih banyak pepohonan. Nah di jalur ini kita akan bertemu dengan warung yang dijaga ibuk-ibuk yang menjual es cendol dan gorengan. Warung ini adalah pertemuan pertigaan yang tadi kami temui. Nah kebayang kan, si ibuk tiap hari bolak-balik mendaki gunung ini :D.
Melanjutkan perjalanan, sekitar 10 menit kita akan sampai puncak. Ada dua arah, sama-sama di puncak  kalau kiri ada gardu pandangnya, sementara di kanan puncak batu gak ada gardu pandangnya. Kami mengambil yang ke kiri. Sampai di gardu pandang kami istirahat sejenak. Untuk mengambil foto dengan latar bebatuan yang merupakan bagian dari Gunung Api, kita bisa berjalan ke bbir tebing, tapi hati-hati ya... jangan sampai kelewatan jalannya tar nyemplung ke bawah hehehe...
 
Dari sini kita juga bisa melihat Embung Nglanggeran, semacam kolam yang ada di puncak bukit. Seandaimya waktunya lebih banyak, kami akan mampir kesana tapi sayang waktunya mepet.
Di puncak bukit sebelah kanan terlihat banyak anak muda menikmati view dari sisi lain. Terlihat disana tiang bendera yang biasanya dipasang di puncak tertinggi. 
Setelah puas menikmati suasana di ketinggian kami pun kembali turun. Di pertigaan kami mampir di warung si Ibu yang jual es cendol dan gorengan, meski berada di puncak bukit tapi harganya tidak mahal, gorengan cuman Rp. 1.000 sama seperti di bawah. Kami melewati jalur yang berbeda dari jalur naik tadi. Di sini jalurnya ternyata lebih santai di banding yang tadi kami lewati. 
Masak kalah sama Ibu ini
Memandang hijaunya persawahan
Hampir mencapai bawah, ada warung yang bernama 'Warung Kejujuran' hehehhe. Tahu kenapa? Karena tidak ada yang jaga, ada lemari freezer yang berisi aneka minuman, bagi yang membeli cukup menaruh duit di kotak yang disiapkan sesuai harga yang tertulis.
Warung Kejujuran
Sekitar jam 11.45 kami sampai di bawah dan langsung ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini kami mengunjungi Air Terjun Sri Gethuk.
 
 
Air Terjun Sri Gethuk masih berada di Gunung Kidul, berjarak sekitar 45 menit. Karena perjalanannya gak ada hambatan dan kondisi jalannya mulus, kami sampai di Sri Gethuk sekitar jam 12.30. Setelah membayar karcis sekitar Rp. 5.000 kami harus jalan sekitar 500m ke lokasi air terjun. 
 
Jalan menuju air terjun berada di sisi sungai. Jadi meski jalan setapaknya bagus kita juga mesti hati-hati karena di sebelah kiri berupa tebing bukit. Di sebelah kanan terlihat persawahan penduduk.
Gak usah kuatir kalau capek, lapar dan haus karena sepanjang perjalanan terdapat warung-warung kecuali di area sekitar air terjun.
Setelah menempuh perjalanan santai akhirnya kami sampai di lokasi air terjun. Gak bisa dipungkiri, Air Terjun Sri Gethuk benar-benar menakjubkan. Terdapat 3 air terjun yang jatuh melalui bebatuan lempung/karst setinggi kurang lebih 25m. Gemuruh air nya seolah-olah membuat orang lupa mitos Gunung Kidul adalah daerah tandus dan kering.
 
 
 
 
Air Terjun yang jatuh langsung masuk ke Sungai Oya yang sayang sekali hari itu berwarna coklat karena hujan beberapa hari di Jogja. Sungai Oya sangat dalam, bisa mencapai 10m sementara hari itu, akibat hujan, arusnya benar-benar kuat sehingga tidak ada perahu apalagi pengunjung yang berenang. Kalau musim kering atau tidak hujan, airnya akan bening dan berwarna hijau.
Dari beberapa air terjun yang saya kunjungi 2 hari itu, di sini pengunjungnya lebih ramai. Banyak yang datang buat bermain air atau hanya sekedar menikmati view atau foto-foto selfie.

Setelah puas, kamipun kembali. Karena haus kami mampir di warung yang viewnya ke Sungai Oya. Kami disini gak makan siang karena rencananya akan makan siang di RM Yu Djum. 
Sungai Oya sehabis hujan
Sesuai rencana, di perjalanan pulang kami mampir di Rumah Makan Gudeg Yu Djum, penasaran karena 2x malam ke Yu Djum yang di Malioboro selalu kehabisan. Dan bener, rasanya gak perlu diraguskan lagi, maknyoss hehehhe.
Habis makan siang kami lanjut ke Bandara, terlebih dahulu mampir untuk beli oleh-oleh bakpia yang hasilnya nihil karena kehabisan dan akhirnya belanja di Bandara :D.
Untungnya si Singa Merah ontime sehingga perjalanan tepat waktu dan sampai di rumah dengan selamat....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Desa Wisata Ciasihan Bagian 1: Curug Cikuluwung Herang dan Curug Emas