Wisata Tenjolaya-Bogor Part IV: Water Trek Curug Cipeuteuy dan Leuwi Anteng

Penasaran dengan keberadaan Curug Cibalay dan curug/leuwi yang ada di aliran sungai di atas Curug Cipeuteuy, tanggal 1 April hari Minggu kami kembali lagi ke lokasi, yaitu Kawasan Situs Cibalay. Anggap saja ini buat melengkapi perjalanan sebelumnya. Untuk perjalanan sebelumnya silahkan di baca di sini: Situs Cibalay dan Curug Cipeuteuy.
Sekitar jam 8 pagi, saya dan Revan berangkat dari Jalan Baru. Rute favorit kami adalah Jalan Baru-Cimanggu via Jalan Kelor lanjut ke Jalan Merdeka hingga tembus Stasiun Kereta Bogor, terus kanan hingga masuk Jalan Pancasan dan selanjutnya Jalan Raya Ciapus. Cuaca pagi itu terlihat cerah tapi kami melengkapa perjalanan dengan jas hujan dan dry bag untuk menyimpan barang-barang karena cuaca di Bogor bisa berubah sewaktu-waktu. Setelah melewati jalan menuju Pura Agung, Highland Resort/Curug Nangka, kemudian pertigaan Curug Sawer lanjut ke kiri hingga ketemu Curug Luhur, dan akhirnya pertigaan Arca Domas. Setelah 100m memasuki gang, kamipun sampai di parkiran di rumah si Ibu yang dulu kami juga parkir di sana. Saat itu jam sudah menunjukkan sekitar jam 9 lewat sedikit. 
Dari si Ibu kami dapat informasi bahwa ada curug yang belum dibuka.... (bikin penasaran hehehhe). Juga si Ibu bilang kalau mau ke curug tersebut bisa ditemani oleh anaknya yang bernama Samsu yang bertugas di sana. Setelah parkir dan ngobrol-ngobrol sebentar dengan si Ibu kemudian kami melanjutkan perjalanan, sebelumnya mampir dulu di warung dekat parkiran untuk beli minuman mineral, meski daerah wisata, Aqua disini cuman dihargai Rp. 3.000 saja :D.
Setelah berjalan sekitar 15 menit kemudian kami sampai di gerbang Kawasan Situs Cibalay dan situs Bale Kembang seolah-olah mengucapkan selamat datang kepada kami. Oh iya, di dekat gerbang ini ada parkiran motor, nah kalo motor kalian offroad atau malas jalan, bisa parkir disini.
Situs Bale Kembang
Situs Bale Kembang
Di gerbang Situs sebenarnya ada pintu masuk langsung mengarah ke curug, tapi kami masuk lewat gerbang utama, melewati jalan setapak di pinggir situs hingga sampai ke saung pak Wahyu. Di saung yang biasanya ramai dengan peziarah, pagi itu masih terlihat kosong. Awalnya kami diskusi apakah mau ke mencari Curug Cibalay atau water trek Curug Cipeuteuy, akhirnya kami memilih water trek Curug Cipeuteuy dan ke Curug Cibalay sesudah makan siang.
Kawasan situs Arca Domas
Cuman istirahat sebentar di saung, kamipun berjalan menuju Curug Cipeuteuy. Baru jalan sebentar, di belakang ada yang memanggil kami, setelah memperkenalkan diri ternyata beliau adalah Samsu, yang ternyata di telpon oleh si Ibu untuk mengantar kami. Berbekal parang untuk membuka jalan, kamipun melanjutkan perjalanan.
Sampai di hutan pinus, di saung kecil (ternyata loket), Mas Samsu berhenti karena ada pengunjung yang datang untuk mengasoh tiket masuk. Mas Samsu mengajak 1 orang temannya untuk join, akhirnya berempat kami melanjutkan perjalanan.
Setelah menuruni bukit pinus, kami sampai di area kemping (camping ground), terlihat lumayan banyak tenda yang terpasang. Beberapa sudah siap bongkar dan pulang, mereka adalah pengunjung yang kemping dari kemaren menghabiskan malam minggu di sini.  
Kami terus menuju arah sungai, kemudian menyeberang sungai, dari sini melihat kebawah terlihat Curug Cipeuteuy yang ramai pengunjungnya. Setelah menyeberang sungai yang berair jernih, kami kemudian treking menaiki bukit yang didominasi oleh pinus. Terlihat jalan setapak samar-samar. 
Jalan menuju curug tak bernama
Kira-kira 10 menit kemudian kami menuruni bukit, dipimpin oleh mas Samsu, kemudian kami turun ke sungai, melewati sebuah Leuwi yang sangat cantik. Berjalan kira-kira 20 meter, di sebelah kiri terlihat tebing yang sangat terjal, tegak lurus 90 derajat. Di sinilah aliran sungai jatuh ke tebing membentuk air terjun/curug. Terlihat hanya satu batang bambu yang lumayan besar yang ditancapi kayu yang terlihat rapuh. Tangga bambu ini digunakan Mas Samsu untuk mencek keberadaan curug tersebut dan curug-curug lainnya di sepanjang aliran sungai. Karena tidak bisa turun, kami hanya mengambil foto dari atas. Mas Samsu berjanji akan membuka akses ke curug ini segera bersama teman-teman Karang Taruna yang mengelola keberadaan curug-curug di Tenjolaya (Curug Cipeuteuy, Curug Ciampea, Curug Ciputri, etc).
Hanya bisa foto dari atas
Hanya bisa foto dari atas
Foto curug dari atas, ada tebing di bawah
Harap dicatat, Mas Samsu gak berani memberi nama curug tersebut karena harus bertanya sama masyarakat lokal siapa tau ada namanya. Jadi sebagai pengunjung janganlah asal memberi nama  suatu tempat tanpa bertanya kepada penduduk lokal.
Akhirnya, kami hanya mengambil foto-foto di Leuwi di sekitar curug yang belum ada namanya ini. Ada sebuah leuwi yang cantik, berair jernih ibarat kaca. Karena gak ada pengunjung selain kami, kejernihannya terlihat jelas tanpa diganggu pengunjung lain yang loncat-loncat yang membuat keruh hehehehe. 
 
 
 
 
Di atas leuwi ini juga ada leuwi-leuwi kecil yang menggoda kami untuk bermain air ataupun sekedar mengambil foto.
 
 
Setelah dari curug ini, kemudian kami melanjutkan perjalanan, di tengah perjalanan kami tidak mengambil jalur yang sama seperti tadi. Di tengah perjalanan, kami mengikuti mas Samsu menembus hutan pinus, dengan berbekal parang, mas Samsu membuka jalan buat kami hingga sampai di aliran sungai yang mengarah ke Curug Cipeuteuy.
Memasuki aliran sungai berbatu, hingga sampai dipertigaan, kami ambil kekiri. Meski siang hari, kadang-kadang kami melewati pohon besar yang ranting-rantingnya memberi kesan horor :D. 
 
Di tengah jalan kami juga menemuka curug sawer kecil di tebing sebelah kanan hingga akhirnya mentok di sebuah tebing lokasi curug yang kami tuju. Curug nya juga belum ada namanya. Tidak terlalu besar dan tingginya kira-kira 5m. 
 
 
 
Setelah mengambil beberapa foto, kami pun kembali menyusuri sungai (water trek) hingga ketemu sebuah goa. Mulut goa nya kecil, dan sepertinya belum pernah di susur. Sekitar 100 meter di depan, kami sampai di Leuwi Anteng, terlihat beberapa pengunjung sedang bermain air di Leuwi yang berair jernih ini.
Leuwi Anteng
Leuwi Anteng
Beberapa puluh meter di depan kami bertemu lagi dengan Curug Cipeuteuy. Sementara Mas Samsu kembali ke base-nya, saya dan Revan turun ke Curug Cipeuteuy. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini curugnya mempunya debit air yang lumayan besar.... wuih beruntungnya. 
Air terjun utama
 
Disisi bawah, sekarang dibendung dengan bebatuan sehingga membentuk kolam. Juga di sisi tebing sebelah kiri, air dari curug dialirkan kemudian jatuh membentuk curug baru. 
 
Karena lapar, kamipun makan bekal yang dibawa dari rumah. Meski cuman cemilan tapi lumayan untuk mengganjal perut. 
Meikmati cemilan
Jam sudah menunjukkan jam 12-an, kami pun kembali ke saung Pak Wahyu. Sebelum kembali, kami pun memberi mas Wahyu ├║pah' karena sudah mengantar kami.
Sampai di saung kamipun memesan mie rebus, kemudian dilanjutkan sholat zuhur. Setelah sholat kemudian, dalam suasana gerimis, kami menuju Curug Cibalay yang katanya gak begitu jauh dari Situs Jami Picing.
Melewati situs Kebon Kopi, terlihat 2 orang peziarah sedang mengadakan 'ritual'. Melewati situs Jami Picing, kemudian terus treking ke bukit yang didominasi oleh hutan bambu. Sampai di pertigaan situs Batu Bergores kamipun lanjut ke atas hingga mencapai 'box'' pipa-pipa aliran air. kami terus ke atas tapi tidak terlihat tanda-tanda adanya sungai apalagi curug. Makin ke atas kamipun makin jauh masuk ke hutan hingga akhirnya kami menyerah (selain cuman berdua, juga suasana yang mencekam hehehehe). Kemudian kami memutuskan kembali hingga pertigaan pipa-pipa dan mengambil jalan satunya lagi. Di sini jalannya, selain berupa hutan/semak, juga menyisiri tebing bukit. Dari tebing sini kami melihat satu curug dikejauhan. Hingga perjalanan kami berhenti di bak penampungan air akhir. Disini benar-benar sudah tidak ada jalan, sementara sisi tebing di sebelah kiri tidak terlihat akses ke bawah. Akhirnya di titik ini kamipun kembali. 
Nah, pas pulang, gak tau kenapa kamipun nyasar, tiba-tiba kami sadar sepertinya ini bukan jalan yang dilalui tadi. Tapi di depan ada hutan pinus, setelah turun bukit memasuki hutan pinus, eh malah kami bertemu lagi dengan Pak Samsu, oalaahhh ternyata kami muter, tapi Alhamdulillah gak nyasar-nyasar amat ya.....
Dari info mas Samsu, rute yang kami lewati bukan menuju Curug Cibalay. Dan sepertinya beliau baru tau ada curug yang kami lihat tadi... hehhehe.
Antar capek dan lapar, akhirnya kamipun memutuskan pulang, melewati langsung gerbang depan curug gak lewat situs lagi......
Mesti sedikit kecewa tapi kami puas karena menemukan curug-curug dan leuwi baru...... :D.
Walau capek tetap eksis :p
 Link terkait Wisata di tenjolaya-Bogor:
- Curug Luhur dan Curug Kiara
- Kawasan Situs Megalitik Cibalay dan Curug Cipeuteuy
- Curug Ciampea
- Curug Sawer

Komentar

  1. Wah keren bang ternyata kl di eksplor msh ada curug tersembunyi. Kl mau nemuin curug lain apa dari leuwi anteng nyusur sungai keatas? Kl dari curug cipeuteuy nyusur sungai lg kebawah ada curug jg ga? Trus buat ke curug tersembunyi tersebut apa harus pake guide?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susur sungainya ke aliran atas mas, ke bawah sudah masuk ke desa.
      Dia atas ada beberapa curug lagi. Ada yg sudah dibuka dan ada yg belum. Sebaiknya pakai guide atau temen yang sudah pernah ke sana..

      Hapus
    2. Oke mas. Untuk menemukan guide nya ada di gerbang ato dmn mas? Apa track nya ada percabangan dan membingungkan?

      Hapus
    3. Guidenya coba Tanya ke yang jaga, biasanya mereka bias jadi guide. dulu saya ama yg jaga, tar dibawa ke curug yang belum dibuka. karena gak ada pengunjung ke atas, sebaiknya pakai guide.

      Hapus
    4. Oke mas terima kasih arahannya. Review nya top bgt deh :-)

      Hapus
  2. Mas maaf mau Tanya, Kalo camping Di camping ground nya itu Ada penyewaan tendanya gak ya? Trus biaya masuk an guide nya berapa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada mbak, di sini cuman ada warung kecil :D.

      Hapus

Posting Komentar

Leave you message here...!!!
Tinggalkan komentar Anda di sini...!!!!

Postingan Populer