Wisata Bangka Part II: Pantai Matras, Pantai Tikus Emas dan Puri Tri Agung



Setelah puas di Pantai Tongaci dan Pantai Turun Aban, liat di postingan sebelumnya DI SINI, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Matras. Jarak dari Pantai Turun Aban ke Pantai Matras tidak terlalu jauh, sekitar 2km. Pantai ini terlihat dari jalan raya, terlihat jelas karena hamparan pasir putihnya yang luas.
Karena gak ada parkiran kusus serta gak ada juru parkir alias gratis, kami parkir mendekati area pantai tapi masih diluar area berpasir.
Sepertinya pantai ini adalah pantai rakyat. Meski begitu, pengunjungnya sangat sedikit. Padahal kalau melihat kondisi pantainya, kalau berada di Pulau Jawa atau Bali pastilah pantai ini sangat ramai oleh pengunjung ataupun hotel dan restaurant. Di sini hanya terlihat beberapa warung, tidak ada penginapan sama sekali.

Kamipun berjalan di hamparan pasir putih yang sangat luas. Kami mengambil area bagian kiri yang pasirnya lebih luas. Terlihat garis pantai yang panjang dan berwarna putih.

Terlihat beberapa pengunjung yang sedang berenang dan membawa motornya sangat dekat dengan pantai. Kamipun mengambil foto-foto di spot ini. Sementara itu hari sudah mulai senja dan terlihat awan mulai berwarna abu-abu.
Setelah ppuas berfoto-ria, kamipun melanjutkan perjalanan. Kali ini atas usul driver, kami menuju Pantai Tikus Emas.
Kamu pasti bertanya-tanya, kok namanya ada tikusnya, sama seperti saya, jawabannya … silahkan baca terus hehehhe…
Arah menuju Pantai Tikus Emas adalah berlawanan dengan arah ke pantai yang sudah kami kunjungi. Jadi kami balik arah, melewati Pantai Turun Aban dan penginapan. Jarak dari Pantai Matras ke Pantai Tikus Emas lumayan jauh, kira-kira 30 menit perjalanan.
Berpacu dengan waktu, Karena cuaca mulai gelap dan mendung. Sampai di gerbang masuk, kita harus bayar sebesar Rp. 5.000/orang (parkir mobil gratis).
Setelah parkir di area yang luas dan bersih, kami turun langsung menuju pantai. Nah sebelum menuju pantai ada patung tikus emas, nah terjawab kan kenapa namanya Pantai Tikus Emas, kira-kira begitu hehehhe.
Pantai ini berpasir putih dan beombak tenang. Terlihat pengunjung terutama anak-anak sedang bermain air. Tapi yang lebih menarik perhatian buat kami adalah hamparan bebatuan yang besar-besar di area kiri. Dengan warnanya yang keemasan ditambah cahaya sore membuat bebatuan ini tampak cantik dan eksotis.
Di area ini kami menghabiskan banyak waktu. Di sini terlihat juga beberapa pengunjung yang berenang di airnya yang tenang dan bening. Juga terlihat mereka loncat dari batu-batu besar ke air laut yang dangkal. Naik ke atas batu-batu besar dan berfoto dengan view laut, adalah pilihan yang bagus.
Karena hari sudah mulai gelap, amipun memutuskan melanjutkan perjalanan ke kunjungan terakhir hari ini, Puri Tri Agung. Dalam perjalanan pulang, terlihat pelangi di kejauhan yang terbentuk dari cahaya matahari sore dan berkas-berkas hujan. Kami berfoto dulu Karena jarang terjadi hehehehe.
Jarak dari Pantai Tikus Emas ke Puri Tri Agung sekitar 4km, jadi perjalanan ke sini kira-kira 10 menit aja. Karena sudah sangat sore menuju malam, Padepokan/Vihara  ini sudah sangat sepi pengunjung, hanya ada 2 mobil. Padepokan ini sendiri sudah tutup (kalo siang pengunjung bisa masuk).
Vihara yang menjadi tepat ibadah Umat Budha ini di bangun sekitar tahun 2002 dan sempat terhenti kemudian dilanjutkan lagi hingga diresmikan tahun 2015. Dan semenjak itu, Vihara ini terbuka buat umum dan menjadi salah satu icon wisata Pulau Bangka (Karena ini tempat ibadah harus selalu menjaga adab dan kesopanan serta aturan yang diterapkan).
Nah meski lokasinya sudah di atas bukit, menurut satpam yang berjaga di sini, di lokasi ini kita bisa melihat sunrise dengan menaiki tangga sekitar 1.000 lebih anak tangga di bukit di belakang vihara ini. Kalo nge-camp bisa dilakukan di Pantai Tikus, yang berada tidak jauh dari vihara ini.
Tidak lama kami di sini, setelah puas berfoto dan ngobrol, kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan, sebelumya makan malam dulu,tidak jauh dari penginapan.
Karena kelelahan, mala mini kamipun tidur lebih awal untuk mempersiapkan perjalan buat besok.
Link terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Desa Wisata Ciasihan Bagian 1: Curug Cikuluwung Herang dan Curug Emas