Jelajah Malang-Lumajang: Sumber Telu,Panorama Coban Kapas Biru dan Coban Gampit


Masih di hari yang sama, dari Coban Srengenge dan Coban Gintung, kami kembali ke penginapan di Tumpak Sewu. Tujuan kami adalah makan siang di warung penginapan karena meskipun ini adalah daerah wisata, jujur saja, agak susah mencari makan besar.

Dari penginapan kami menuju arah Tempursari, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Pronojiwo. Dari penginapan ambil kanan ke arah kota Lumajang, melewati gerbang Goa Tetes, Coban Kapas Biru dan Coban Kabut Pelangi. Namun sebelum mencapai perbatasan Tempursari kami melihat ada plang petunjuk arah ke Sumber Telu. Karena tidak kuat godaan, kami pun putar arah ke Sumber Telu yaitu memasuki jalan kecil ke dalam area perkebunan salak.
Lokasi parkiran
Tidak beberapa jauh masuk perkebunan salak, ampailah kami di area parkiran di depan rumah warung yang sekaligus menjadi loket masuk. Biaya masuk Rp. 5.000/orang dan biaya parkir Rp. 5.000. Di parkiran cuman ada motor kami, bearti tidak ada pengunjung lain. Dari spanduk yang ada terbaca bahwa lokasi ini selain ada Sumber Telu, juga ditawarkan wisata petik buah Salak dan Panorama Coban Kapas Biru.  Namun sepertinya kalah pamor dengan gerbang Coban Kapas Biru yang sebelumnya kami kunjungi sehingga spot wisata ini jadi sepi.
Pertigaan Sumber Telu-Coban Kapas Biru
Menuju Sumber Telu
Dalam suasana gerimis, dari parkir, memasuki kebun salak, sekitar 50m kami bertemu pertigaan, ke kanan ke Sumber Telu dan lurus ke Panorama Coban Kapas Biru. Tujuan pertama adalah Sumber Telu, kami mengambil arah kanan. Melewati jalan tanah hanya sekitar 100m kemudian kami menuruni bukit hingga sampai di anak sungai yang berair jernih dan dingin.
Suasana adem
Di seberang sungai terlihat sisi tebing dimana terlihat sumber mata air yang keluar dari celah-celah bebatuan. Untuk ke seberang kami melewatin jembatan gantung dari bambu. Di seberang tersedia  tempat istirahat berupa bangku-bangku kayu, saung di bukit sebelah kanan dan toilet/kamar ganti di sebelah kiri. Di kelilingi oleh pepohonan yang rapat, sungai yang mengalir dan bebatuan yang berlumut hijau menjadikan lokasi ini tempat yang tepat buat beistirahat dan menenangkan pikiran.

Nah, Sumber Telu sendiri bearti 3 sumber mata air, ini dikarenakan ada 3 lokasi sumber kumuplan mata air (kalau mata airnya sih banyak banget hahahha..). Tapi sebenarnya sumber mata air ini mengalir di sepanjang tebing tapi kumpulan sumber mata air ini ada 3. Sumber mata air yang besar berada persis di depan jembatan, sumber ini mempunyai mata air membentuk air terjun mini dan melewati bebatuan bertingkat dan jatuh di kolam yang dangkal.
Sumber Telu #1

Sumber Telu #1
Sumber kedua, yang berada di tengah tidak kalah catiknya, berada di bawah pepohonan yang teduh, agak mirip-mirip lokasi bertapa di film-film silat hahahha, juga mempunya kolam yang dangkal.
Sementara sumber ketiga, berada di kiri dan memanjang dan di kirinya lagi masih ada sumber-sumber mata air kecil-kecil. Semua sumber ini bisa diminum langsung, lebih fresh dibanding air mineral botolan. Semua sumber ini bermuara ke anak sungai didepannya dan selanjutnya jatuh membentuk Coban Kapas Biru yang sebelumnya sudah kami kunjungi.
Sumber Telu #2

Sumber Telu #3
Dan tidak lengkap rasanya kalau ke sini tidak merasakan kesejukan air di lokasi yang unik ini. Sumber pertama adalah pilihan yang tepat karena debit airnya yang paling besar dan punya bebatuan yang bisa di panjat. Berada di bawah aliran air yang sangat sejuk ini menjadikan badan segar dan di re-charge kembali.
Berendam di Sumber Telu
Berbasah-basah, kemudian kami menuju Panorama Coban Kapas Biru. Setelah melewati perkebunan salak kemudian menyusuri jalan dengan cor-coran yang berada di sisi bukit/tebing. Selanjutnya melewati anak-anak tangga yang sangat licin. Karena jalurnya lumayan curam sehingga kita harus ekstra hati-hati ketika menuruni anak tangga. Banyak nya semak-semak disepanjang jalur dan licinnya anak-anak tangga menandakan lokasi ini sangat jarang dilalui pengunjung. Terus kebawah kita bisa melihat dari dekat air terjun terakhir ketika kami ke Coban Kapas Biru.
Jalan ke Coban Kapas Biru yang terbengkalai

Sampai di tempat yang agak terbuka, kami bisa melihat Coban Kapas Biru di sisi kanan, tapi tidak bisa melihat view coban secara keseluruhan. Jadi kata ‘Panorama’ ini kurang tepat, karena kalau kita terus menuruni bukit akan sampai ke Coban Kapas Biru, jadi boleh dikata bahwa ini adalah jalur lain menuju Coban Kapas Biru. Karena sudah ke Coban Kapas Biru sebelumnya maka kamipun tidak meneruskan perjalanan dan kembali ke parkiran.
View Coban Kapas Biru

Untuk selanjutnya, seperti rencana awal kami aka mengunjungi coban kembar yang terlihat ketika melewati jalur ke Coban Kabut Pelangi, yang menurut penjaganya di sebut Coban Gampit (atau Gambit?) yang kalau dicari-cari di Goole saya tidak menemukan referensinya.

Dari pertigaan setelah jembatan besar dimana dibawahnya terdapat Coban Wolu/Coban Sriti, kami ambil kanan yang terlihat gapura yang juga merupakan perbatasan Pronojiwo dan Tempursari. Memasuki Tempursari kita melewati jalan yang berada di pegunungan, melewati aspal mulus dan dengan jalan berkelok-kelok.

Di Maps terlihat jarak yang ditempuh adalah 15km, yang ternyata saya salah men-tag lokasi, lokasi yang di tag adalah Coban Tiga Bidadari. Setelah menempuh 10km lebih perjalanan dan bertanya kepada penduduk lokal ternyata di sekitar sana tidak ada air terjun dan jalannya mengarah ke wilayah pantai.

Karena salah jalan, kamipun kembali lagi ke arah semula, setelah 7km ke arah balih dan bertanya ke penduduk lokal dengan kata kunci ‘lokasi penambangan pasir’ akhirnya kamipun menemukan jalan masuk ke Coban Gampit. Ternyata jalan ke coban ini tidak begitu jauh dari gerbang Tempursari. Di pertigaan terdapat warung kecil dan ternyata jalannya ditutup dengan portal dan ada tulisan peringatan bahwa tanah disana adalah tanah negara. Jadi penambanga yang ada di bawah adalah ilegal? Gak tau lah, tapi yang pasti ada celah kecil di portal yang bisa dilewatin oleh motor.

Melewatin jalan menurun berupa cor-coran, jalan yang kami liat waktu perjalanan ke Coban Kabut Pelangi, melewatin hutan dan perbukitan. Sekitar 200m kamipun sampai di Coban Gampit yang ada di bukit sebelah kanan. Coban nya ada 2 yang berdekatan, melewati bebatuan diantar celah bukit. Kamipun mengambil beberapa foto di coban ini. Karena ini bukan tujuan wisata jadi area ini tidak dikelola dan dibiarkan apa adanya.
Coban Gampit
Selanjutnya menuju penambangan pasir, dimana ada coban kecil bukit nya. Terus menuju ke bawah, ke area sungai, kemudian sampai di area yang rata yang mana hanya ada pasir dan bebatuan. Sudah tidak terlihat seorangpun pekerja di sini. Sampai di depan coban kecil yang dimaksud, kami serasa berada di negeri antah berantah. Di tengah penambangan pasir dan dikelilingi oleh perbukitan dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Coban yang gak ada namanya

Coban yang gak ada namanya
Setelah mengambil beberapa foto, hari semakin sore, sudah menjelang magrib dan cuaca gerimis kamipun meninggalkan lokasi dengan hati yang sudah tidak penasaran lagi.

Baca juga link terkait:
- Tumpak Sewu/Coban Sewu dan Coban Ciblungan (kunjungan kedua)
- Coban Srengenge dan Coban Gintung  
- Coban Kabut Pelangi
- Coban Kapas Biru 
- Coban Kaca dan Coban Rais 
- Air Terjun Madakaripura, Coban Lawean dan Coban Kembar 
- Coban Rondo dan Labirin Coban Rondo
- Sumber Siji, Sumber Pitu dan Sumber Papat
- Coban Putri Ayu/Coban Buntung, Coban Kodok dan Grojogan Sewu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Tenjolaya-Bogor Part X: Curug Ciseeng

Leuwiliang: Ada Pelangi di Curug-mu