The Unexpected Journey 1: Curug Lalay, Curug Penganten dan Curug Dempet


Perjalanan kali ini benar-benar di luar rencana. Awalnya, berempat sudah sepakat menggunakan mobil akan ke Curug Cigentis di Karawang dan Green Canyon di Cariu-Bogor seminggu setelah berkemah di Cidahu. Berangkat Sabtu 29 September dan menginap/berkemah di area Curug Cigentis. Tapi menjelah hari H, 2 teman mengundurkan diri dan jadilah cuman saya dan Revan yang akan berangkat. Akhirnya di sepakati tidak jadi berkemah, dan kami berangkat hari Minggu dengan rute Green Canyon dan selanjutnya ke Curug Cigentis dengan menggunakan motor.
Berangkat dari Bogor pagi-pagi sekitar jam 6-an yang bearti jalan belum begitu ramai. Rute yang kami ambil yaitu Jalan Baru menuju Cibinong. Melewati perempatan flyover, memasuki Citeureup ke arah kiri hingga sampai pasar dan ikutin terus sampai ke Gunung Putri (gerbang tol Gunung Putri). Memasuki jalan Raya Narogong dimana terdapat Pabrik Semen Holcim. Kemudian kita ambil kanan memasuki Klapanunggal. Berbeda dengan kondisi jalan sebelumnya, mulai dari sini kondisi jalannya mulai dari jelek-sangat jelek. Daerah ini memnjang perbukitan kapur yang ditambang untuk kepentingan bahan baku semen dan juga untuk bangunan. Dari jauh terlihat deretan perbukitan yang sebagiannya berwarna putih seolah-olah terluka. Dan meskipun masih pagi, wilayah ini seperti diselimuti debu/asap dan bau yang berasal dari penambangan batu dan pembakaran. Ironis sekali karena wilayah ini banyak sekali terdapat perumahan.
Dari jalan raya ini, kita akan keluar di pertigaan Jonggol-Cileungsi. Di sini kita sudah memasuki jalan propinsi yang menghubungkan Bogor-Cianjur. Meskipun begitu, kondisi jalannya boleh dibilang jelek, karena banyak aspal yang pecah dan jalanan bergelombang, dan kami nyaris jatuh sewaktu berada di tengah jalan. Dari Jonggol kita selanjutnya memasuki kecamatan Cariu.
Di sebuah pertigaan kita akan melihat petunjuk arah, ke kanan ke arah Cianjur dan Penangkaran Rusa sekitar 13 km. Nanti kita mengambil jalan yang tidak terlalu bagus. Di pertigaan kami berhenti sebentar untuk sarapan. Di pertigaan ini terpampang petunjuk arah ke Green Canyon.
Pertigaan menuju Cikutamahi/Green Canyon
Dari pertigaan ini ke Green Canyon sekitar 30 menit lagi. Pemandangan menuju Green Canyon sangatlah bagus. Sulit dipercaya atau saya baru tahu ada pemandangan sebagus ini. Pegunungan berlapis dengan gradasi warna hijau dan biru, agak-agak mirip Bukit Barisan di Sumatera. Di kiri kanan terhampar persawahan, cuman sayang kondisi sawahnya habis panen dan banyak yang belum ditanami lagi.
Salah satu view disepanjang perjalanan
Perjalanan terhenti ketika sampai di sebuah jembatan dan terdapat spanduk petunjuk arah Green Canyon. Begitu sampai di loket yang ada di pinggir jalan kami ditanya mau ke Green Canyon atau ke Curug Lalay dan Curug Penganten. Karena tidak ada rencana ke Curug lalay jadinya galau. Pas dilihatin foto-foto Curug Lalay dan Curug Penganten dari HP yang menjaga loket akhirnya saya jadi tertarik mau ke sana. Hanya saja di jelaskan jaraknya sekitar 7km. kalau berjalan kaki bisa ditempuh dalam waktu 2-2.5 jam. Opsi lain, melewati jalan berbeda dengan menggunakan ojeg dan perkiraan waktu tempuh 6km sekitar 30 menit dan 1 km selanjutnya trekking/jalan kaki.

Motor yang digunakan adalah motor yang sudah di modifikasi, mirip-mirip motor gunung/motor trail. Biasanya ongkos sekali jalan tanpa guide Rp. 40.000. Dan kami mau PP dan guide ke Curug Lalay dan Curug Penganten. Saya dan Revan memutuskan untuk membayar Rp. 100.000 PP + guide yang kami bayarkan setelah kembali dari Curug Lalay.
Jika kalian pernah naik ojeg gunung di Curug Sawer-Situ Gunung-Sukabumi, maka perjalanannya sama, hanya saja trek di sini lebih jauh. Trek ini sebenarnya adalah trek warga yang membawa kayu menggunakan motor, jadi berbeda dengan trek kalau kita jalan kaki.
6 kilometer perjalanan cukup buat menguji adreanalin. Kondisi jalan yang berupa jalan tanah dan kecil dan di kiri merupakan jurang. Kondisi jalan menanjak mendominasi keberangkatan ini. Tikungan dan tanjakan panjang sehingga sangat tidak di anjurkan membawa motor normal (matik atau manual yang belum dimodifikasi). Karena lahannya masuk lahan warga, jadi nya tanaman yang mendominasi yaitu kopi dan durian. Durian Cariu adalah salah satu jenis durian lokal yang terkenal.
Kondisi jalan gunung ini seperti tidak bearti bagi para pembawa kayu yang mendapatkan upah sekitar Rp. 50.000-Rp. 70.000 sekali trip. Berbeda dengan para pembawa kayu di trek menuju Curug Cihear yang dibawa dengan di bopong.
Di salah satu titik, kita bisa menyaksikan salah satu gunung/bukit sebelum meyeberang sungai Ciomas yang disebut Gunung Sulah. Gunung ini tidak terlalu tinggi, berwarna kecoklatan diterpa sinar matahari (kalau pagi tidak terlalu kelihatan warnanya). Di kaki gunung terlihat petani sedang mengolah sawah. Nah melewati Sungai Ciomas kita sudah memasuki wilayah Karawang. Hanya saja karena sungainya memutar-mutar saya agak bingung karena kadang-kadang kita memasuki wilayah Bogor kadang-kadang wilayah Karawang.
Gunung Sulah
Gunung Sulah
Sungai yang jadi batas wilayah

Sampai di sebuah saung dekat persawahan, kami memarkirkan motor dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1km. meyeberang sungai lagi yang debitnya sedikit karena musim kemarau dan banyaknya pipa-pipa yang mengambil langsung air dari sungai. Trek 1 km ini didominasi oleh persawahan dan ribuan pohon durian. Menurut guide kami, pohon-pohon durian ini sebagian ditanam oleh kakak-kakek buyut mereka sehingga gak heran banyak pohon durian yang sudah tua yang mungkin sudah berusia lebih dari 100 tahun. di wilayah ini dulunya (di jaman Belanda) merupakan kampung, kampung Ciporong yang ramai dan terdapat pasar, sekarnag hanya sisa beberapa rumah dan banyak berpindah ke arah luar (jalan raya).
Lokaasi parkir
Treking menuju Curug Lalay

Treking menuju Curug Lalay
Hanya sekitar 30 menit berjalan kami sampai di Pos Curug Lalay. Sebenarnya bukan pos tapi sebuah warung tenpat berjualan makanan dan minuman ringan. Tempat ini juga dijadikan tempat beristirahat pergi dan pulang dari Curug lalay dan Curug Penganten. Di depan warung ada area kemping yang cukup untuk beberapa tenda saja, dan persisi di depannya adalah Sungai Ciomas.
Lanjut ke atas, menurun kita menemuka aliran seperti curug dengan leuwi yang berwarna hijau tosca. Dan tidak jauh di atasnya kita juga menemukan satu leuwi lagi dengan warna yang sama. Nah dari sini kita sudah bisa melihat Curug Lalay. Di curug ini tidak ada penjual makanan jadi saung yang tersedia adalah saung untuk istirahat.
Leuwi sebelum Curug Lalay

Leuwi sebelum Curug Lalay
Seperti biasa, kalau ada beberapa destinasi, kami mengunjungi yang paling jauh dulu. Jadi dari lalay kami langsung menuju Curug Penganten/Curug Pengantin. Nah, karena banyak yang berjalan kaki sudah kelelahan menempuh perjalanan lebih dari 2 jam maka Curug Penganten sering terlewatkan. Dari Curug Lalay ke Curug Penganten kita harus menempuh jalan yang lumayan ekstrim, kalau boleh bertanya, ini mau ke curug atau mendaki gunung? Hehehe...
Untuk menuju Curug Penganten kita harus mendaki lagi sekitar 20 menit. Menyusuri tebing sungai, dan ditengah jalan kita menemukan curug kecil yaitu Curug Dempet, dengan ketinggian sekitar 5m. Curug ini jatuh diantara 2 batu yang berdempetan, kalau musim hujan ada aliran kecil di curug utama.



Curug Dempet

Meski tidak terlalu panjang, trek ini melewati bibir jurang, menginjak bebatuan, dan jembatan kayu yang menggantung di bibir jurang dan berpegangan dengan tali seadanya. Selanjutnya melewati batu-batu gunung dan akar pohon. Kemudian menurun sehingga terlihat Curug Penganten bertingkat-tingkat. Berhubung musim kemarau, tingkatannya terlihat 3 tingkatan, kalau di musim hujan bisa terlihat sampai 5 atau lebih.
Curug Penganten dari atas

Curug Penganten dari atas
Untuk turun ke bawah kita melewati tebing batu, dan disediakan tali untuk berpegangan. Sampai di bawah kita bisa menikmati kesejukan air curug ini. Meskipun kemarau, debit air masih lumayan besar. Tinggi curug utama yang berada paling bawah sekitar 25 meter lebih dan air nya jatuh ke lewi dengan kedalaman sekitar 1.5m.  kemudian airnya mengalir melewati tebing batu menyerupai lembah batu mini. Air sungai inilah yang menjadi aliran curug-curug di bawahnya. Karena berada di lembah sempit, jadi tidak ada ruang terbuka untuk traveler yang berencana berkemah di sini.
Curug Lalay
Curug Lalay
Kembali ke Curug Lalay, meski hampir tengah hari, pengunjung masih bisa dihitung jari. Untuk bisa melihat semua tingkatan curug bisa dilihat dari kejauhan, di depan saung atau di curug paling bawah. Meski terlihat kecil dan pendek tapi sebenarnya lumayan tinggi jika kita mendekat. Curug utama mempunya ketinggian sekitar 10m dengan leuwi yang berwarna hijau tosca dan tidak terlalu dalam. Juga terdapat curug dan leuwi kecil setelahnya.
Curug Lalay keseluruhan (tidak terlihat bagian atas)
Menikmati kesejukan curug ini pastilah dengan cara berenang di dalam kejernihan dan kesejukannya. Tempat favorit saya adalah tingkatan paling bawah dimana kita bisa bermain seluncuran di batunya. Sementara kolam di bawahnya tidak terlalu dalam, hanya sekitar 1,5m. jadi buat pengunjung tidak perlu merasa kuatir karena semua kolam disini tidak terlalu dalam kecuali buat pengunjung anak-anak. Yang menjadi perhatian adalah air bah, jadi hati-hati kalau mengunjung curug ini di musim hujan.
Formasi bebatuan di CUrug Lalay
Berenang di Curug Lalay bagian bawah
Berenang di Curug Lalay bagian bawah
Berseluncur
Curug Lalay bagian tengah
Berenang di Curug Lalay bagian bawah
Curug Lalay bagian tengah
Puas berenang kami melanjutkan perjalanan ke Green Canyon sebelumnya istirahat sejenak di Pos bawah untuk menikmati mie instan, lumayan untuk mengganjal perut dan modal perjalan berikutnya. hanya ada 1 hal yang masih menggeiti, sebenarnya Curug layar dan Penganten ini masuk Karawang atau Bogor? hehehehe

Baca juga link terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curug Cikaracak: Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Gede Pangrango

Hiking ceria ke Goa Agung Garunggang Geopark-Sentul, Bogor

Merasakan Sejuknya Curug Cibeureum, Curug Cicandra dan Kebun Teh Cianten