Langsung ke konten utama

Unggulan

Index Blog Bagian 2 : Lokasi Wisata di Luar Bogor

The Blue Paradise-Nusa Penida I: Toyapakeh, Gamat Bay dan Crystal Bay

Sebenarnya sudah lama saya ingin berkunjung ke Nusa Penida-Bali, tapi baru terlaksana pada libur panjang 11-14 Mei 2017, yang bearti saya mengambil 1 hari cuti kerja. Sudah buat pengumuman sana-sini (mungkin ada yang mau join) akhirnya yang berangkat cuman saya dan Revan. Meski harga tiket terbilang mahal (2.35 juta PP), kami tetap berangkat. Mengambil penerbangan malam tanggal 10 Mei, si Singa Merah mendarat mulus di Ngurah Rai sekitar jam 9 lebih. Setelah makan, menggunakan taksi, kami menuju Pantai Sanur yang sudah sangat sepi (karena sudah hampir tengah malam).

Pagi-pagi sekitar jam 7 lewat kami jalan kaki ke Pantai Sanur yang jaraknya sekitar 100 meter dari penginapan. Di luar dugaan ternyata pengunjung sudah sangat banyak dan antri di lokasi penjualan tiket. Ternyata tiket penyeberangan untuk jam 8 sudah habis dan kami mendapatkan jadwal jam 9.30. Harga tiket Sanur-Nusa Penida Rp. 100.000 (normalnya Rp. 75.000), ada beberapa kapal yang melayani penyeberangan, tinggal pilih mana yang available/masih kosong.
Jam 9.30, para penumpang mulai menaiki kapal. Karena di Sanur ini kapalnya gak pakai jetty/pelabuhan, jadinya kita harus jalan agak ketengah, melewati ombak, jadi siap-siap aja diterjang ombak hehehehe.
Siap-siap menaiki kapal
Berpacu dengan ombak
suasana didalam kapal
Lama perjalanan kira-kira 45 menit, karena speedboatnya kencang banget jadilah kita berasa terbang di atas laut... #lebay.
Mendekati Nusa Penida, kita akan melewati pulau kecil, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Sekitar jam 11 kami berlabuh di pelabuhan Toyapakeh. Begitu berlabuh, kita akan langsung di suguhi pemandangan laut yang aduhai, biru dikejauhan dan air yang jernih kehijauan di area pantai.
Di pelabuhan, kita sudah ditunggu oleh motor yang berjejer untuk disewakan. Gak bias memilih, karena sistim antrian, kami mendapatkan motor yang kondisinya lumayanlah dengan tarif sewa perhari Rp. 70.000. Keluar dari pelabuhan, hal pertama yang dilakukan adalah pencari penginapan.

1. Toyapakeh
Desa Toyapakeh menjadi pilihan kami untuk menginap. Kenapa Toyapakeh? Karena kami gak mau repot cari makan dan masjid, karena Toyapakeh dikenal sebagai kampung Muslim (mayoritas) dari jaman dahulu (Kerajaan Klungkung). Juga karena berada dipinggir pantai, dimana pantainya sangat bersih, berpasir putih dan airnya sangat jernih. Jadi kalau mau berenang tinggal nyemplung hehehehe.
Penginapan di pinggir pantai
Pantai Toyapakeh
Pelabuhan
 
Menikmati sarapan
Kami mendapatkan penginapan persis dipinggir pantai, arah paling kiri dari pantai. Di sini pagi-pagi banyak penjual sarapan, mulai dari gorengan, nasi uduk atau nasi kuning. Makan siang juga ada soto, pecel lele atau pecel ayam. 
Karena desa ini sudah ada dari jaman kerajaan dulu yang berusia ratusan tahun, maka masyarakat di sini punya toleransi yang sangat tinggi. Jadi jangan heran kalau disini mesjidnya dekatan dengan pura, atau suara azan 5 waktu juga suara-suara umat Hindu yang beribadah biasa terdengar.
 
 
 

2. Gamat Bay
Dari Toyapakeh, kalau kita ambil kanan maka Gamat Bay. Karena mengikuti Google Map, jadinya kami nyasar masuk ke desa terpencil. Setelah Tanya-Tanya penduduk akhirnya kami menemukan lokasinya. Lokasinya cukup terpencil. Setelah parkir disekitar lading penduduk (di sini aman loh, kunci motor ditinggal juga gak bakalan hilang motornya hehehehe). Kemudian jalan melewati lading penduduk. Di sambut oleh seekor anjing yang ramah, kami dipandu menuju ke bawah.
Ketemu temen perjalanan
Trek menuruni tebing hingga pantai lumayan sulit karena kondisi jalan berbatu karang (tipikal hamper di semua spot/destinasi). Meski hati-hati menuruni tebingnya, jangan sampai lengah atau tergelincir kalau gak mau masuk ke jurang.
View dari atas
View dari atas
Sampai di bawah tidak ada pengunjung hanyak kami berdua. Karena sudah lewat siang dan cahaya matahari mengarah ke teluk kecil ini, terlihat sinar matahari memantul di laut/pantai yang jernih ini. Pasirnya agak kehitaman. Mungkin karena treknya lumayan sulit makanya spot ini kurang popular. Oh ya, kabarnya di teluk ini adalah spot untuk diving.
Gamat Bay

3. Crystal Bay
Setelah dari Gamat Bay, kami melanjutkan perjalanan ke Crystal Bay, spot yang cukup popular dan banyak didatangi turis. Perjalanan ke sini tidak terlalu sulit, hanya saja harus hati-hati berkendara karena jalannya naik-turun.
Sampai diparkiran, sudah banyak kendaraan yang parkir umumnya motor. Matahari sudah mulai condong ke Barat. Melihat matahari mau terbenam, kami sebenarnya berencana ke Kelingking Beach, gak tau kenapa kami tiba-tiba balik badan pengen ke Kelingking Beach. Tak disangka ternyata perjalanan ke Kelingking Beach lumayan jauh melewati remote area dan kami memutuskan kembali ke Crystal Bay.
Garis pantai di teluk ini tidak terlalu panjang, mungkin sekitar 1km. Saat itu ombak lumayan besar dan pengunjung dilarang berenang jauh dari pantai. Ini terlihat ketika ada beberapa bule yang berenang menjauh dan diperingati oleh penjaga pantai untuk balik. Kalau cuaca sedang bagus, disini airnya tenang sehingga cocok untuk snorkeling dan berenang. Akhirnya kami cuman main disepanjang pantai dan menunggu hingga matahari terbenam.
 Oh iya, di tengah teluk terdapat pulau kecil yang 'bolong' yang membuatnya unik dan menjadi daya tarik tersendiri.
Ketika sunset tiba, terlihat pantulan cahaya matahari menyerupai kristal, dan gak salah sehingga teluk ini disebut Crystal Bay.

Biaya-biaya:
- Penginapan di Toyapakeh: Rp. 300.000/malam
- Sewa motor: Rp. 70.000/hari
- Pantai Toyapakeh: gratis
- Gamat Bay: gratis
- Crystal Bay: parkir motor Rp. 5.000


Link terkait:
- The Blue Paradise-Nusa Penida II: Pura Dalem Penataran Ped, Kelingking Beach, Broken Beach, Angel's Billabong dan Smokey Beach 
- The Blue Paradise-Nusa Penida III: Pantai Atuh, Batu Molenteng, Suwehan Beach dan Bukit Teletubbies

Komentar

Postingan Populer