Jayanegara: Kabut, Kebun Teh dan Air Terjun

Desa Jayanegara berada di kecamatan Kabandungan kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Nah kalau kalian dari Jabodetabek apa yang pertama terbayang di kepala kalian kalau ingat Sukabumi? Macet? Jalanan jelek?. Ya benar, jalanan macet. Jalanan jelek? Mungkin, ke beberapa lokasi tujuan wisata.
Nah tanggal 29-30 Juli 2017 saya, Revan dan Kusti (kakak sepupunya Revan) ke Jayanegara, ini sebenarnya lebih tepat Revan dan Kusti pulang kampung, karena nenek-kakek mereka berasal dari sini.
Meski sudah terbayang macet di jalan tapi kami berangkat siang. Saya dan Revan berangkat dari Bogor jam 11 siang dan janjian ketemu Kusti di Ciawi. Berangkat dari Jalan Baru, kami masuk tol Jagorawi dan keluar Ciawi, belum keluar dari tol sudah macet parah di gerbang tol, dan akhirnya baru lewat lampu merah Ciawi sekitar jam 14.30 dan setelah ketemu Kusti kamipun melanjutkan perjalanan.
Jalan Ciawi-Sukabumi siang itu benar-benar macet parah apalagi sepanjang jalan yang banyak pabriknya.
Sudah sore kami baru lepas dari kemacetan. Lepas jalan raya, selanjutnya kami belok kanan lewatin Parung Kuda. Di sini kami melewatin stasiun kereta api Parung Kuda (kereta api Bogor-Sukabumi lewat stasiun ini). Selanjutnya kami melewatin jalan berbelok-belok, kalau saya bilangnya belokan yang gak pernah selesai hahahaha. Gimana tidak, belokannya disini banyak bener dan itupun pendek-pendek, jadi kita gak boleh lengah sedikitpun kalo nyetir. Sementara di sebelah kiri atau kanan adalah tebing atau jurang dalam. Sebenarnya viewnya bagus, berhubung sudah agak sore dan pohon-pohon mahoni sepanjang jalan besar-besar, jadinya suasana agak gelam dan terkesan horor.
Karena belum makan siang, kami mampir di warung pecel lele/pecel ayam di daerah Klapanunggal. Makan siang yang telat karena sudah menunjukkan jam 5 sore. Setelah ishoma kami melanjutkan perjalanan. Dari sini sudah tidak terlalu jauh ke Jayanegara. Sekitar Magrib kami sampai di Jayanegara.
Kami menginap di rumah bibinya Revan. Lokasi rumahnya berada di bawah, jadi dari pinggir jalan kita harus turun melewati jalan cor-coran yang hanya bisa dilewatin motor. Mobil kami parkir dipinggir jalan disamping warung sodaranya Revan.
Karena capek, kami tidur lebih awal berselimut tebal karena dingin.
Pagi-pagi setelah sarapan, sekitar jam 8 kami menuju ke Curug Sentral ditemani oleh Mang Somat, sepupunya Revan. Sebelum berangkat foto-foto dulu di perkebunan teh yang berada di seberang jalan. Meski sudah jam 8, tapi masih berkabut.
Perkebunan Teh Jayanegara Indah, itulah nama perkebunan teh ini, kabarnya salah satu produksinya adalah Teh 2 Tang. Jalan yang membelah Kebun Teh ini beraspal mulus. Hanya beberapa kilo dari tempat kami menginap, kita masuk melewati jalan di samping bangunan yang terlihat seperti gudang. Tapi gak usah takut, ada plang terlihat jelas yang menunjukkan arah ke Curug Sentral. beberapa ratus meter didepan ada pos masuk biasanya bayar Rp. 5.000 per orang, tapi karena masih pagi belum terlihat penjaga pos nya. Kami memarkirkan mobil di belakang sekolah SD. Selanjutnya kami menuju Curug Sentral.
Jalan menuju Curug Sentral adalah jalan setapak membelah Perkebunan Teh. Suasana pagi itu masih berkabut, terlihat pemetik teh sedang bekerja. Suasana terlihat begitu indah dan damai... #love.
Menyusuri pinggir bukit, selanjutnya jalan menurun menuju arah Curug Sentral. Sampai dibawah terlihat aliran sungai dimana aliran sungai ini melewati rumah tempat kami menginap selanjutnya menuju Curug Ratu Hileud.
Sampai dibawah, belum terlihat ada pengunjung. Di kejauhan terlihat Curug Sentral 1 yang tinggi menjulang. Airnya dingin dan jernih. bebatuan yang terendam air telihat berwarna kecoklatan karena airnya bercampur belerang yang berasal dari Kawah Ratu. Sesekali terlihat kabut.
 
Di sini kita harus hati-hati melangkah karena bebatuannya licin. Tidak ada bangunan permanen disini ataupun banguan non permanen yang umum kita lihat di curug-curug lain yang berjualan makanan/minuman sehingga tempat ini relative lebih bersih dan rapih.
 
 
 
Setelah puas mengambil foto kami melanjutkan perjalanan ke Curug Sentral 2. Mengambil jalan setapak di sisi bukit sebelah kanan, kami mulai trekking. Di sini kita harus hati-hati melangkah karena jalurnya lumayan licin karena tanah merah basah.
 

Sampai di atas bukit selanjutnya trek nya mulai landai menyusuri sisi sungai. Terlihat ada curug-curug kecil disepanjang perjalanan. 
 
Terakhir kita harus menyeberang sungai melewati jembatan kayu. Di bawah terlihat curug kecil dengan leuwi yang cocok buat berenang. Kami berencana mandi disini setelah dari Curug Sentral 2.
Menuju Curug Sentral 2, dari jembatan kita menaiki bukit yang lumayan terjal. Hati-hati naik turun disini karena licin.
Selanjutnya beberapa ratus meter di depan akan terlihat Curug Sentral 2. Curug ini tersembunyi, kita harus menuruni bukit melewati akar pohon yang lumayan besar. Sampai bawah baru terlihat indahnya Curug Sentral 2. Meski curug ini tidak terlalu tinggi, sekitar 5-6 meter tapi debit airnya besar dan deras. Bebatuan di sini licin, menandakan jarang pengunjung yang datang ke curug ini.
Di sini Reva dan Kusti basah-basahan meski tidak berenang terlalu ke tengah. Agak susah mengambil foto di sini karena tampiasnya terlalu kencang, sehingga lensa kamera selalu basah.
 
Selanjutnya kami turun lagi menuju curug kecil yang tadi kami lalui untuk berenang sepuasnya.
Setelah puas berenang. Kami melanjutkan perjaanan. Melewati Curug Sentral 1, sudah terlihat banyak pengunjung karena sudah mulai siang.
Keluar dari parkiran kami membayar Rp. 20.000 (berempat) kepada petugas karena tadi ketika masuk belum ada yang jaga. Selanjutnya kami menuju Hellipad milik perusahaan yang mengelola Geothermal (Star Energy). Kami melewati perkebunan teh dimana sejauh mata memandang terlihat pekebunan teh menghampar hijau.
Di area Hellipad ini menjadi tempat favorit warga lokal dan pengunjung untuk bersantai. Jugakami berfoto-foto di depan gerbang Star Energy. Di sini juga kita bisa prkir motor/mobil tanpa dipungut bayaran.
 
Kembali ke bawah, tidak beberapa jauh dari Hellipad kami menuju Curug Sentral 3 (ada yang bilang ini Curug Sentral 5). Lokasi curug ini cukup tersembunyi. Untung ada Mang Somat yang jadi pemandu kami. Melewati kebun teh selanjutnya menuruni bukit yang jalan setapaknya sudah mulai tertutup semak.
 

Meski jalurnya tidak terlalu jauh tapi kondisinya lumayan terjal dan licin.  Kira-kira 15 menit kami sampai di bawah. Terlihat curug yang indah dengan ketinggian sekitar 6m dengan debit air yang lumayan besar dan menyebar. Airnya berwarna hijau tosca dan bebatuan yang berwarna coklat menandakan adanya kandungan belerang.
Kami lumayan lama disini mengambil foto-foto.
Karena sudah tengah hari dan kami sudah kelaparan, kamipun kembali pulang. Karena basah-basahan, semua pada bersih-bersih dan ganti pakaian. Selanjutnya makan siang yang disiapkan oleh bibinya Revan.
Setelah beristirahat kami melanjtkan petualangan menuju Curug Ratu Hileud. Curug ini gak jauh dari rumah ini. Berjarak sekitar 300m.
Dari jalan belakang, karena jarang dikunjungi, tidak ada petunjuk arah ke curug ini. Karena Revan dan Kusti sudah pernah kesini, jadi kami tidak kesulitan menuju curug ini. Menuruni bukit yang tidak begitu terjal akhirnya kami menemukan curug Ratu Hileud. Oh iya, curug ini terbagi 2 yaitu Curug Ratu Hileud (wanita) yang lebih kecil yang berada di atas. Curug ini tidak begitu tinggi tapi leuwinya luas. Ada cerita mitos di curug ini sehingga kami gak berani masuk terlalu jauh dan berlama-lama disini.
Curug Ratu Hileud (wanita)
Selanjutnya kami menuju ke Curug Ratu Hileud (Pria) yang ada di bawah. Tapi kita tidak bisa susur sungai karena berupa tebing jadi harus naik lagi keatas. Sampai atas ada jalur kekiri menuju aliran sungai di bawah. Di sini jalan tyrun juga lumayan ekstrim karena tidak dirawat dan mulai ditutupi semak. Karena licin kita harus hati, gak apa-apa lambat asal selamat hehe. Kira-kira 10 menit kami sampai di bawah.
Terlihat curug yang indah... berwarna hijau tosca dengan debit yang lumayan besar serta tinggi sekitar 10m.
Di bawah terlihat leuwi yang luas. Dari gradasi warnanya bisa dipastikan kedalamannya disekitar air terjun.
Tidak terlihat satu orangpun pengunjung di curug ini. Hanya terlihat beberapa petani sedang bekerja di ladang.
Setelah puas berfoto-foto, kamipun kembali ke rumah bibinya Revan. Bersiap-siap dan beberes. Rasanya males sekali kembali ke Bogor dan ingin berlama-lama di Jayanegara menikmati labut, kebun teh dan bermain-main di air terjun.
Curug Ratu Hileud (pria)
Curug Ratu Hileud (pria)
Curug Ratu Hileud (pria)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Leuwiliang: Ada Pelangi di Curug-mu