Curug Cikaracak: Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Gede Pangrango

Curug Cikaracak, berada di kampung Cibeling, desa Cinagara, kecamatan Caringin, Bogor, buat sebagian besar traveler kurang familiar meski oleh masyarakat Bogor sendiri dimana Curug ini berada. Kurang populer dibanding Curug Bidadari, Curug Luhur, Curug Putri Kencana atau Leuwi Hejo yang lagi booming. Tapi percayalah, kalau sudah mengunjungi curug ini, akan meninggalkan kesan tersendiri baik perjalanannya, alamnya, dan curug-nya sendiri.
Oke, balik dulu ke 2 minggu sebelumnya. Hari Minggu tanggal 26 Februari 2017, saya dan Revan, kami memulai perjalanan ke Curug ini. Berbekal peta dari Google Map yang menunjukkan jaraknya sekitar 1.5jam dari rumah, gak terlalu jauh, jadi kami berangkat menggunakan motor sekitar jam 11.00. Jalu yang kami ambil yaitu melewati Tajur sampai Ciawi, di sini agak stak karena macet di perempatan Ciawi (tol Jagorawi-Puncak-Sukabumi-Tajur). Setelah melewati perempatan, kami terus menyusuri jalan raya Sukabumi menembus kepadatan lalu lintas, bersaing dengan mobil-mobil transformer hehehe.
Mengikutin Google Map, kami mengambil arah ke Desa Cimande, dan mampir makan siang tidak jauh dari pertigaan. Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan. Mengikutin terus Map (curugnya hanya berjarak sekitar 20 menit dari pertigaan) dari jalanan beraspal hingga jalanan berbatu yang hanya bisa dilalui motor. Di satu titik, di puncak bukit (berasa di negeri antah berantah hehehe) kami bertanya ke beberapa pekebun yang sedang bekerja mengenai lokasi curug Cikaracak, ternyata jalan yang ditempuh adalah salah, karena lokasinya bukan melewatin desa ini. jadi kami berkesimpulan bahwa Google Map menunjukkan lokasi terdekat ke curug tanpa tahu apakah bisa di akses atau tidak #gubraaak.
Tersasar ke sini...
Tersasar ke sini...
Jadi kami harus turun bukit lagi, hingga kemudian memutar ke kiri hingga mencapai bukit di seberang dan lanjut ke Cinagara. Sampai di pertigaan Cinagara kami ambil kiri (kalau ke kanan ini ke arah jalan Raya Sukabumi, ini adalah jalan yang benar). Kondisi jalanan beraspal dengan banyak lubang, dari jalan yang cukup buat 2 mobil akhirnya menyempit hingga cukup buat satu mobil. Sepanjang jalan kita disuguhi pemandangan yang menakjubkan, lembah dengan persawahan, perkampungan di kaki bukit hingga perbukitan hijau.
Salah satu pemandangan sepanjang perjalanan
Salah satu pemandangan sepanjang perjalanan
Salah satu sudut Cinagara
Kalau ada kata-kata bijak yang mengatakan 'Jalan tak Berujung', mungkin harus berpikir ulang karena jalannya di sini ada ujungnya hehehe. Di ujung jalan, kami memasuki jalan kecil dan parkir di rumah warga (parkiran resminya di lapangan di sebelah kiri yang ada gerbang warna hijau). Setelah mempersiapkan segala sesuatu terutama jas hujan, kamipun memulai trekking. Start trekking sekitar jam 3 sore, kami sudah disuguhi pemandangan hijau berupa persawahan dan perbukitan (kaki gunung Gede Pangrango). Kami jalan melewati pematang sawah. Di kiri ada sungai berair jernih, sungai ini berhulu di Curug Cikaracak.
Memulai perjalanan...
Gak lama berjalan, di sebelah kiri ada villa sederhana dari kayu dan bamboo, di kunjungan berikutnya saya dapat info villanya disewakan dengan tarif Rp. 20.000 per kepala, ada 4 kamar dan bisa diisi 40 orang.
Villa disewakan
Beberapa ratus meter di depan kami menemukan warung kecil yang menjual aneka minuman dan makanan ringan/mie instant.
Suang tempat istirahat para pengunjung
Beberapa ratus meter selanjutnya kami menemukan saung kosong dan bertemu dengan teman Revan dan dia menganjurkan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena mendung dan sepertinya akan turun hujan lebat, karena jalurnya harus menyeberang sungai tiga kali, kalau hujan akan rawan banjir. Tapi saya mencoba melanjutkan perjalanan hingga ketemu saung terakhir. Di sini sudah mulai hujan agak lebat dan petir sahut-menyahut. Dan sayapun memutuskan kembali.
Suasana hujan lebat
Suasana hujan lebat
Suasana hujan lebat
Benar saja, di sepanjang perjalanan hujan sangat lebat, sungai yang tadinya berair jernih sekarang menjadi cokelat. Kami beristirahat lama di warung kecil sekalian ngemil. Setelah hujan agak reda kamipun pulang dan berjanji akan kembali lagi minggu depannya.

4 Maret 2017
Mengobati rasa penasaran, saya memutuskan kembali lagi ke Cinagara mengunjungi Curug Cikaracak. Sekarang team kami jadi 4 orang, tambahan Teh Noey dan Ica. Kami berangkat 2 motor dari rumah Teh Noey sekitar jam 8 pagi. Belajar dari pengalaman minggu lalu yang nyasar, kamipun sekarang melewati jalan yang berbeda. Patokannya dari Jembatan Sempur, ke arah Sukabumi ada plang penunjuk arah ke kiri, ke Cinagara. Dari sini lurus saja hingga ke parkiran. kami sampai di parkiran sekitar jam 9, jadi waktu tempuh cuman sekitar 1 jam.
Teh Noey dan Ica
Di gerbang kami di sambut oleh pemuda (minggu lalu sih gak ada alias gratis hehehe). Kami sekarang harus bayar parkir Rp. 5.000/motor dan tiket masuk Rp. 2.000.
Parkir
Lapangan parkir
Setelah bayar tiket masuk kami melanjutkan trekking. Karena masih pagi, masih terlihat banyak petani yang bekerja di sawah, tapi pematang sawah yang di lewati tetap licin, sepertinya bekas hujan tadi malam. Setelah melewati 3 saung, kami memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Meski gak pakai guide, jalan setapak terlihat jelas meski gak terlalu lebar. Jalurnya tidak terlalu ekstrim, jadi bisa jalan santai.
Jalur treknya beragam, dari hutan, lapangan terbuka (semak), berbatu dan kadang-kadang menyusuri jalur air. Trek nya menyusuri jalur sungai utama, dengan 3 kali menyeberangi sungai yang arusnya tidak terlalu deras. Tapi tetap hati-hati karena di penyeberangan pertama, Revan jatuh... :p.
Penyeberangan pertama
Penyeberangan kedua
Penyeberangan ketiga
Di sepanjang alur sungai kita menemukan banyak curug-curug kecil yang bagus untuk di foto. Di penyeberangan ketiga, kita akan mendapatkan bonus curug yang mirip surug Sawer yang ada di Curug Seribu. Nah dari sini sekitar 50 meter di depan kita akan menemukan Curug Cikaracak.
Ternyata gak sia-sia bela-belain balik lagi ke sini, Curug Cikaracak bener-bener menakjubkan. Perpaduan Curug Seribu dan Curug Saderi. Penampakannya mirip Curug Saderi tapi banyak curug-curug kecil di sepanjang tebingnya mirip di Curug Seribu. Curug ini mempunyai tinggi sekitar 40 meter dengan debit yang sangat besar, sehingga dengan melihat saja sudah menjadi peringatan tidak tertulis buat pengunjung agar tidak mendekat ke sekitar bagian bawah curug.
Awalnya pengunjung hanya kami berempat, beberapa lama kemudian dating beberapa anak muda. Kami dan pengunjung lain hanya berfoto-foto di bebatuan sekitar aliran curug, untuk keamanan tentunya.

Sementara saya sibuk ngambil foto-foto curug, yang harus berkali-kali, karena hampir semua titik kena tampias yang membuat lensa basah, Revan, Teh Noey dan Ica asik bermain air. Semakin siang, semakin banyak pengunjung, terutama rombongan anak-anak yang mungkin sekitar 30 orang, kamipun memutuskan kembali.
Perjalanan pulang, saya sempatkan diri ambil foto-foto aliran sungai yang cantik. :D.
The mystical forest.... #love
The mystical forest.... #love
The mystical forest.... #love
Di perjalanan yang sudah banyak dilewati pengunjung menjadikannya tambah licin, si Ica beberapa kali jatuh hehehe. Jadi buat kalian yang mau kesini, pakailah sepatu/sandal gunung.
Di saung pinggir sungai kami mampir dulu istirahat. Di sana ada satu keluarga, ada nenek beserta anak dan menantunya. Meski gak sampe curug, kelihatannya mereka sudah bahagia, mereka bawa gitar, bernyayi dan berfoto-ria, bahagia itu sederhana kok dan gak perlu mahal. Pengobati keletihan, kami makan mie rebus, gorengan, kopi dan air mineral. Makan minumnya sambil bersenda gurau di sungai.... indah kan.... :D





Cemilan
Setelah puas bermain air, kamipun kembali pulang. Alhamdulillah perjalanan pulang tidak hujan, dan kami mampir dulu makan siang (sekitar jam 4) di Air Mancur dan sampai di rumah sekitar jam 5-an.

Berikut info biaya-biaya:
- Tiket masuk: Rp. 2.000
- Parkir: Rp. 5.000

Komentar

  1. keren bgt bro, btw tau info angkot k sananya gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalo ke langsung ke desa kayaknya gak ada mas. palingan dari Bogor cuman sampai pertigaan yg ke Cinagara dan itu masih jauh. Kalo rame2 mending sewa angkot dari Bogor

      Hapus
  2. mas info dong kalau dari bojong ke mana? saya kurang faham tuh sama lokasi nya

    BalasHapus
  3. Mbak nya pernah ke Ciawi/Sukabumi? Itu jalan utamanya.
    Jadi kalo dari Bojong, terus ke Bogor Kota, ambil arah Tajur tembus perempatan Ciawi, lurus ke arah Sukabumi. Nanti ketemu pertigaan Cimande, ada pertigaan lagi ke CInagara (orang2 bilangnya Semplak), dipertigaan ada pangkalan ojeg, terus aja ke kiri sampai mentok. Liat artikel di atas. Bisa juga dibantu sama Google Map atau tanya2 masyarakat sekitar.

    BalasHapus

Posting Komentar

Leave you message here...!!!
Tinggalkan komentar Anda di sini...!!!!

Postingan Populer