Ciasmara-Sekeping Surga yang Terlupakan I: Curug Saderi dan Curug Cimanglid

Sebenarnya saya tahu Desa Ciasmara dari hasil baca-baca postingan di Traveler-Backpacker (TRACK) Kaskus Regional Bogor. Sebenarnya udah jarang sih baca-baca Kaskus, gak kayak dulu sebelum Facebook, WA, etc menguasaian dunia persilatan hahaha...
Karena tertarik, saya pun menghubungi CP nya, Abay. Dan kebetulan lagi tim saya, Revan, Teh Noey dan Opah juga ikut, jadilah kami gabung pakai 2 motor.
Awalnya janjian di stasiun Bogor jam 7.15 pagi, akhirnya ngumpul semua peserta sekitar jam 8. Mepo tepat-nya di depan dpan stasiun bawah jembatan penyeberangan 4 motor, saya dan Revan, Teh Noey dan Opa, Abay dan adiknya Audri, Ridho dan Widia. 1 motor lagi kang Danny sama anaknya yang nunggu depan IPB Dramaga.
Dalam suasana hujan, kami meluncur melewati jalan raya Sindang Barang, di sini kami berhenti sejenak di SPBU, pakai jas hujan lengkap dan ada yang ke minimarket beli snack dan minuman. Dari SIndang Barang keluar Bubulak selanjutnya berenti sebentar nunggu Kang Danny di IPB Dramaga. Setelah formasi tim lengkap, kami lanjut hingga ke Leuwiliang. Nah di pertigaan Cemplang (Cibungbulang) ambil kiri. Nah buat kalian yang gak biasa pertigaan ini, patokannya pertigaan Cibatok yang rame ama angkot ngetem, dan ada plang gede menuju arah Gunung Salak Endah, jaraknya sekitar 200m dari sini. Kondisi jalanan disini mulus, jangan kuatir hanya saja karena bukan jalan utama, jalanan cukup 2 jalur, jadi gak usah ngebut-ngebut banget hehehehe.
Nanti di tengah perjalanan kita banyak menemukan papan petunjuk arah, ke arah Salak Endah dan Ciasmara. Biasanya ke Ciasmara lurus aja. Melewati kecamatan Cibungbulang selanjutnya kita masuk ke kecamatan Pamijahan, nah desa Ciasmara adalah bagian dari kecamatan Pamijahan.
Nah nanti sampai ke jalan yang di concrete/cor-coran, ramai dikiri kanan sepertinya pasar. Di sebelah kiri ada Indomart. Nah sebelum Indomart ini ada jalan desa, kita ambil jalan ini. Jadi kalo kalian lewat Indomaret ato jalan concrete bearti kalian kelewatan guys, masalahnya kita kelewatan hehhehe. Nah kalo ada yang naik angkot, berentinya disini guys, angkot 54 Leuwiliang-Parabakti lewatin rute ini.
Dan untungnya ada Kang Danny yang udah pernah ke sini hehehe. Ingat ya, jalan ke Desa Ciasmara pas kami kesana belum ada petunjuk arah di jalan raya. Nah pas kami masuk, beberapa puluh meter baru terlihat papan petunjuk arah ke Desa Wisata Ciasmara, tapi saying plangnya udah patah dan tergeletak di rerumputan... hikhikhik.
Nah kondisi jalan disini adalah... berbatu jereng-jreng...... tapi masih lebar, didepan ada mobil yang masuk....tapi pelan-pelan. Tapi kekesalan kami terbayar dengan pemandangan yang benar-benar memukai guys.... sawah di kiri kanan dan perbukitan yang tertutup kabut (ya lah ya... namanya juga hujan)... syahdu deh pokoknya..... :D.
Jalanan yang tadinya cukup satu mobil akhirnya cukup buat motor aja.... hehehhe. Dan jalannya tetep, parah, berbatu.... haris benar-benar hati-hati, untung saya bonceng ama Revan, yang katanya udah professional... (???).  Selain berbatu, juga kami menemukan jalan yang menanjak atau menurun ekstrim. Di suatu titik kita bisa melihat di kejauhan curug yang tinggi, pas pulang saya tanya ke anak-anak sana, ternyata itu namanya Curug Lalay.

Nah di tempat kami melewati bukit yang di belah buat jalan yang cukup buat 1 motor. Nah di balik bukit kami juga melihat pemandangan yang gak kalah indahnya..... Setelah beberapa ratus meter kami menemukan pertigaan, kekanan ke Curug Saderi dan ke kiri ke Desa Wisata. Sempat diskusi bentar apa mau ke curug dulu atau ke desa, akhirnya kami memutuskan ke Desa dulu buat istirahat. Melewati tikungan kamipun melihat desa Wisata tersebut... wuih cakeeeep. Melewati gerbang ucapan selamat datang kamipun masuk dan di sambut oleh Abah sebagai pengurus di sana.
 
Sambil menunggu pesanan mie rebus, kami pun ngobrol ama si Abah atau foto-foto di sekitar sana. Si Abah cerita kalo dari desa ini kita bisa loh ke Sukabumi tembus Chevron Geothermal atau ke Curug Sentral.  
Nah, disini ada Curug Saderi, Curug Cimanglid, Curug Cikawah dan Curug Cijambe. Sama si Abah kita gak diijinkan ke Cikawah karena trek nya (sekitar 2 jam) yang kurang bersahabat pas hujan-hujan gini. Jadi kita (berencana) cuman ke 2 curug yang dekat aja, yaitu Curug Saderi dan Curug Cimanglid.
Mie rebus sudah datang………… kamipun makan dengan lahap,mungkin karena hujan, mebuat perut sangat lapar hehehe. 
Abis makan, persiapan sebentar, kamipun menuju Curug Cimanglid. Di temani oleh 2 orang guide local (anak atau sodara abah ya? Hehhe) kami di antar. Melewati jalan setapak yang basah, kami memasuki semak dan bukit. Di sini selain bebatuannya licin, juga banyak pacet/lintah. Jadi mesti hati-hati. Pemandangan yang hijau semua membuat kita rileks, sementara medan yang dilewati tidak terlalu berat. Berjalan sekitar 15 menit kita sudah melihat Curug Cimanglid dikejauhan.
 
Selanjutnya kita melintasi sungai kecil yang diseberangnya ada Cipanas Karang, yaitu mata air panas yang berada di karang. Karang ini terbentuk akibat pengendapan belerang selama bertahun-tahun. Tingginya sekitar 2 meter. Untuk mencapai karang kita harus menyeberang sungai hati-hati karena batunya lumayan licin. Saat naik karang juga hati-hati jangan sampai kulit kita bersentuhan langsung dengai air panas yang mengalir dari atas.
 
Sampai di atas terlihat mata air membentuk kolam mini. Di samping kolam terlihat bekas kulit telur, sepertinya ada pengunjung yang merebus telur disini dan sampahnya dibuang sembarangan.
Selanjutnya kami ke Curug Cimanglid dengan menuruni karang dan berjalan sekitar 50m.  Curug Cimanglid terlihat tinggi menjulang, ketinggiannya berapa ya… hmmmm #mikir emoticon hehehehe. Kayaknya lebih dari 50 meter hehehe (belum ketemu di Google referensi buat curug ini hehehe). Aliran airnya yang gak terllau gede menimpa bebatuan di bawahnya sehingga kita gak nemuin leuwi/kolam buat berenang seperti umumnya curug yang ada. Karena curugnya lumayan tinggi, jadinya banyak tampias di sekeliling curug sehingga agak menyusahkan kita yang mau ambil foto. Karena gak bisa berenang, akhirnya temen-temen cuman foto-foto disekitaran bebatuan di bawah curug yang sudah cukup membuat badan basah dan berasa mandi di pancuran hehehhe.
Setelah puas bermain air kamipun balik ke saung. Kali ini kami melewatin aliran sungai (water trek). Di sepanjang jalan kami melihat curug-curug kecil. Dan dibandingkan dengan trek pertama, maka trek pulang ini sangat santai.
 Sebelum saung kami mampir dulu ke air panas, cuman saying kolam besar yang menampung air panas sedang dikosongkan, hanya tersedia di bak di 2 kamar mandi tapi lumayan hangat.
 
Sampai di saung, makanan yang kami pesan sebelum berangkat sudah tersedia (goreng ikan nila 3kg, tumis kangkung yang dilengkapi dengan lalap dan sambel). Di saung kami bersih-bersih, dan saya dapat satu pacet/lintah yang menempel di kaki dan sudah kenyang, buat lepasinnya pake tembakau rokok, juga anaknya Kang Danny juga nempel satu.
Setelah pada sholat dan mandi air hangat kamipun menyantap makanan yang tersedia. Meskipun sederhana tapi berasa istimewa terutama sambelnya.. langsung ludes apalagi dinikmatin rame-rame, suasana hujan pula…. Nikmat apalagi yang kau dustakan? :D.

Setelah makan dan istirahat sebentar, saya, Abay dan Kang Danny melanjutkan ke mengunjungi Curug Saderi. Sementara yang lain istirahat di saung. Untuk ke Curug Saderi, kami menggunakan motor ke parkiran curug. Arahnya yaitu ke arah kiri pas pertigaan. Kondisi jalannya meski cor-coran tapi tanjakan/turunannya bener-bener sadis hehehe. Melewati terasering sawah yang cantic (suah dilukiskan dengan kata-kata hehehe). 

Gak sampe 10 menit kamipun sampe ke parkiran curug. Dijaga oleh seorang anak kecil, dipungut biaya Rp. 2.000 per orang (kami bayar Rp. 10.000 bertiga). Di sisi kiri terlihat aliran sungai, dan terlihat kolam besar untuk menampung air (jadi ingat kolam di Leuwi Asih atau di Curug Telu Leuwi Opat hehehehe).
Kamipun menuju curug melewati jalur setapak, menyusuri sungai. Tidak terlalu sulit karena jalannya terlihat jelas, dan gak terlalu extrim, malah cenderung santai.
Di sepanjang aliran sungai kami melihat banyak spot-spot bagus yang dibentuk karena kombinasi bebatuan, tebing dan arus. 
 
Pada akhirnya kamipun melihat curug yang dituju, Curug Saderi. Saya cuman bisa berkata wow… menakjubkan…. 
Curug tunggal dengan debit yang sangat besar membuat curug ini kelihatan perkasa. Dengan ketinggian sekitar 50m dan deburan airnya yang kencang membuat basah area sekitar curug. Karena anginnya dari arah kiri, sayapun gak bisa mengambil foto dari area kanan, tampiasnya seperti hujan yang membuat basah. Akhirnya saya cuman bisa ambil foto dari kejauhan dan dari sisi depan. Sementara Kang Danny dan Abay membawa action camera, jadinya mereka bisa deket-deket ke bagian bawah curug. Oh iya, sama kayak Cimanglid, curug ini juga mempunyai kolam yang tidak terlalu luas, banyak bebatuan di bawahnya. 
Curug Saderi
 
Curug Saderi
Setelah puas mengambil foto dan bermain air kami pun kembali ke saung. Sampai di saung sudah jam 4-an. Kamipun bersiap-siap dan berkemas-kemas. Sekitar jam 4.30 kamipun pamit ama si Abah. Dan kami berjanji suatu hari nanti akan balik lagi, nginap, liat sunset dan mengunjungi Curug Cikawah.
Berhenti sejenak buat rapihin jas hujan di pertigaan Ciasmara
Hujan-hujan di jalan, dan kejebak macet di Dramaga sampai Cifor, saya/Revan dan Opah/Teh Noey mampir dulu di Surabi Duren Cifor….. maknyus, cukup buat menutup perjalanan hari ini……:D
  
 Tips:
- Jangan lupa bawa jas hujan
- Pakailah sendal/sepatu karen/anti slip
- Jangan lupa bawa tembakau/autan untuk menghadapi pacet/lintah
- Jangan buang sampah sembarangan
- Usahakan belanja atau pesan makan di Desa untuk meningkatkan ekonomi masyarakat
- Meski tidak menginap, beri tips buat yang punya saung

Biaya-biaya:
- Curug saderi: Rp. 2.000
- Makan: 200.000/10 orang
- Mie dan kue-ke: Rp. 55.000/10 orang

Link terkait:

Komentar

  1. Waduh, ga ngajak-ngajak ke Surabi Durennya..

    Next time kuy Cikawah lah..

    BalasHapus

Posting Komentar

Leave you message here...!!!
Tinggalkan komentar Anda di sini...!!!!

Postingan Populer