Pesona Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: Situ Gunung, Curug Sawer dan Curug Cimanaracun


Minggu lalu, tepatnya 18-19 Februari 2017 saya berkesempatan berkunjung ke Situ Gunung.  Meski masuk ke wishlist tapi sebenarnya gak dalam waktu deket. Sebenarnya minggu lalu itu pengen ke Curug Cikaracak-Caringin-Bogor. Gak tau tiba-tiba aja pengen ke Situ Gunung, apalagi baca-baca ternyata di sekitar sana ada Curug Sawer.
Awalnya kami rencana pergi berempat, tapi pas hari-H, satu orang mendadak batal, jadilah saya, Revan dan Teh Noey yang berangkat.
Dari Bogor kami berangkat sekitar jam 11 sebelumnya mampir dulu di Minimarket buat beli cadangan makanan hehehe. Karena menginap jadi gak apa-apa berangkat kesiangan, waktu nya diperkirakan cukup kalau tujuannya cuman sekitaran Situ Gunung.
Menghindari sedikit macet di keluar tol Ciawi, kami memutuskan lewat Tajur. Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, memasuki jalan Raya Sukabumi kondisi jalan mulai merayap sampai macet total. menghindari macet di Pasar Cicurug, kami lewat jalan alternative yang kondisi jalannya lumayan jelek. Lepas dari jalan alternative, kami masuk lagi ke Jalan Raya Sukabumi, memasuki Cisaat kami istirahat makan siang dulu ... (bisa ditebak pasti makan Padang.....hehehe).
Oh iya, di jalan ternyata ada yang nyusul 2 orang pakai motor, Erlan sama Uda Endri.
Menuju Situ Gunung ini mudah, hanya mengikuti jalan Raya Sukabumi (bisa cari alternative), sampai di depan Alun-alun Cisaat nanti ketemu pertigaan, ambil kiri, juga ada plang besar sebagai penunjuk arah. Dari pertigaan ini kita akan menempuh sekitar 7km jalan aspal mulus (ada sih satu dua lobang hehehhe). Nah di ujung jalan kita akan bertemu pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sepanjang jalan di kiri kanan kita bisa melihat view perbukitan, sawah dan lading yang menghijau serta lembah-lembah.
Kami sampai di gerbang Taman Nasional sekitar jam 5-an. Rencana awal mau langsung ke Situ, setelah bayar Rp. 18.000/orang, kami memutuskan ke Situ nya besok pagi aja, lagi pula kata penjaganya karcis nya bisa dipakai buat besok pagi. Okeh... selanjutnya cari penginapan. Si petugas juga menginfokan penginapan terdekat. Kami juga langsung di antar ke penginapan terdekat yang ada warungnya. Setelah liat-liat sebentar, kami memutuskan di sana aja, harga sewanya Rp. 250.000 per malam. Kamarnya ada 2 yang dibatasi oleh tirai, 1 toilet dan air panas, cuman air panas nya dah kek mendidih, jadi kalau mau dipakai harus dicampur ama air dingin hahahha.
Setelah beberes sebentar, kami menuju ke bawah, ke salah satu spot melihat sunset. Banyak anak-anak muda kumpul buat melihat sunset. Berhubung cuaca kurang mendukung, dan berawan, dapat juga sunset 'seadanya' hehehehe. Di tengah-tengah acara menikmati sunset, akhirnya Erlan datang bergabung.
Setelah puas foto-foto, kami kembali ke penginapan. Karena cuacanya dingin, mandi adalah sesuatu yang bikin galau, meski akhirnya saya memilih gak mandi hehehe. Untuk makan malam, kami pesan sama si Abah pemilik penginapan, nasi goreng dan mie rebus. Juga acara malam, diisi dengan main gaple. Karena capek, tidur malam pun agak cepat, dan besok harus bangun pagi-pagi untuk ke Situ Gunung.
Rencana pagi untuk berangkat jam 5, akhirnya mundur jadi jam 5.30. Berlima kami jalan ke gerbang Taman Nasional. Di sana sudah ada 1 orang petugas yang jaga. Kami cuman bilang bahwa sudah bayar kemaren, dia cukup manut aja, apa karna ada yang ngomong pake bahasa Sunda? hahahha.
Nah masuk gerbang, kalau lurus sekitar 2km akan menuju Curug Sawer dan kiri sekitar 1km menuju Situ Gunung. Karena niatnya ke Situ Gunung, kamipun ke kiri. Jalanan masih gelap. Kondisi jalannya lumayan bagus untuk ukuran Taman Nasional, berbatu-batu dan lumayan lebar. Kami melewati area Camping Ground dan Wisma Situ Gunung yang terbengkalai. Nah Wisma ini terbengkalai, katanya, semenjak kawasan ini dijadikan kawasan Taman Nasional yang sebelumnya dikelola oleh Perhutani.... sayang sekali yes....
Gak sampai 30 menit, kamipun sampai di Situ Gunung.
Buat kalian yang belum kesini, jangan bayangin situ-nya seperti Danau Toba atau Danau Maninjau ya hehehhee..... Situ Gunung gak terlalu luas kok.. palingan cuman 5 hektar (ini kata Mbah Google loh hehhe). Dikelilingi oleh hutan-hutan lebat yang mebuat suasananya adem, sangat cocok sekali buat pengunjung yang merindukan suasana damai dan menyatu dengan alam.
Terlihat di sekitar danau berdiri tenda-tenda dengan unggun kecilnya dan beberapa pengunjung berkeliaran di sekitar danau. Pemandangan di sudut-sudut danau ini Instagrammable banget …. Di bagian kiri terlihat hutan damar menjulang tinggi dan sebelah kanan terlihat hutan alami, dan kabut tipis menyelimuti danau.
Juga terlihat tukang rakit duduk memperhatikan pengunjung. Setelah ngobrol bentar dapat informasi, kalau keliling-keliling danau sekitar 15 menit kita bayar Rp. 15.000/orang, kalau sewa buat prewed/foto-foto bayarnya Rp. 750.000. Kami pun keliling rawa, berlima ditambah 2 orang pengunjung lain. Menurut si Bapak, airnya paling dalam cuman sekitaran 3 meter.
Bapak tukang rakit...
Dan menurut info juga, ada air terjun namanya Simanaracun, gak terlalu jauh dari Situ. Setelah puas di Situ, kamipun menuju Curug Simanaracun. Arahnya ke atas gak terlalu jauh sekitaran 1km. Ternyata bener gak beberapa jauh terlihat plang penunjuk arah ke Curug Cimanaracun. Kondisi jalannya hampir sama kayak ke Situ Gunung tapi di banyak lokasi berlumpur/basah. Di sini kami juga menemukan pertigaan menuju ke Curug Sawer. Gak beberapa jauh kita bisa melihat Wisma Situ Gunung yang terbengkalai. Nah Wisma ini terbengkalai, katanya, semenjak kawasan ini dijadikan kawasan Taman Nasional yang sebelumnya dikelola oleh Perhutani.... sayang sekali yes....
Setelah sekitar 1km jalan santai, akhirnya kami sampai ke curug. Curugnya gak terlalu besar, tingginya sekitar 20m, debitnya kecil. Gak ada pengunjung lain selain kami. Tapi lumayan lah buat foto-foto.
Power Rangers goes to Curug Cimanaracun
Hei curug, apakah kamu tahu bahwa kamu bukan tahu?
Yang cukup mengagetkan, dibawah air terjun terdapat sesajen berupa ayam yang sudah dikuliti yang ditaroh di atas dan ditutupin daun pisang. Mungkin udah lebih dari satu hari karena mulai berbau. Gak lama disini, kamipun menuju Curug Sawer.
Ke Curug Sawer gak perlu lagi balik ke gerbang depan, dekat Wisma Situ Gunung yang terbengkalai ada pertigaan menuju ke sana sekitar 1.7km. Kondisi awal jalan kesana yaitu mendaki, meski lumayan extrim tapi gak terlalu tinggi.

Di atas ini kita menemukan tempat istirahat dan pertigaan. Nah pertigaan ini, kalau ke kanan kea rah gerbang depan dan ke kiri ke arah Curug Sawer. Menuju kiri, kita akan menempuh jalan yang terus menurun.
Di akhir turunan awal ini kami bertemu dengan warung kecil yang menjual aneka minuman (gak ada makanannya hahaha). Kami berhenti sebentar beli minuman, Aqua 60ml dan Mizone dihargai total Rp. 20.000; kedengaran mahal sih tapi kalo melihat perjuangan menuju sini makan harganya wajar segitu hehehe.
Habis dari warung ini kita menurun sedikit kemudian naik lagi muter sisi bukit, nah pas turunan terakhir ini terlihat area Curug Sawer.
Sampai di bawah, terlihat area yang rata, yang lumayan luas, area ini dibelah sungai yang merupakan aliran Curug Sawer. Terlihat ban-ban hitam menumpuk, bisa disewakan buat body rafting yang panjangnya sekitar 1.5 km… Juga terlihat banyak tukang ojek kumpul disini. Kamu pasti heran kok ada tukang ojeg di atas bukit, ya inilah keunikan ojek disini hehehe.

Dari sini terlihat Curug Sawer di kejauhan. Makin mendekati area curug, makin terlihat kegagahan curug ini. Tinggi nya sekitar 35 meter (baca infonya di papan informasi hehehe), dengan debit air yang sangat besar menciptakan arus yang kenceng dan tampias yang membuat area sekitarnya basah. Jadi buat yang foto-foto harus bener-bener ekstra hati-hati agar lensanya gak basah.
Karena udah agak siangan, pengunjung sudah banyak di sekitar curug. Cuman perlu dicatat, jangan bermain air di area kolam, karena kabarnya ada yang meninggal karena berenang di kolamnya, mungkin karena arusnya terlalu besar sehingga terbentuk pusaran air. Terlihat anak-anak yang bermain air di aliran sungainya yang lebih aman.  
Saya coba mengambil foto dari beberapa sudut, termasuk di aliran sungainya. Dan umumnya hasil fotonya berbintik-bintik kena tampias dan gak bisa pakai low speed.

Pengunjung yang datang makin lama makin banyak, umumnya rombongan dan keluarga.

Buat kalian yang  kesini gak usah kuatir kelaparan, banyak pemadam kebakaran di area ini, mulai dari cemilan, sampai mie instan, juga minuman.
Setelah puas di sini kamipun balik. Kali ini pulangnya naik ojeg, Ojeg bukit hehehe. Setelah tawar menawar, dari Rp. 35.000 jadi Rp. 25.000. Menyeberangi sungai melewati jembatan kayu, kemudian kami jalan sekitar 200 m, di sebuah warung berderet motor-motor tua nan perkasa. Saya dapat giliran pertama, jalan duluan.
Dan harap dicatet, digaris bawahi dan di bold…. ini adalah pengalaman ojeg yang paling mendebarkan seumur hidup di planet ini… #mimik shock. Gimana tidak, jalannya menuruni bukit, menyusuri pinggir bukit dimana dibawahnya menganga jurang, kalo jatuh, guling-guling deh masuk jurang yang dalamnya mungkin lebih dari 100 meter hehhehe. Dan si abangnya, karena dah biasa, tanpa peduli penumpang dibelakang gas terus gak pake lambat apalagi ngerem hehehe. Sesekali ketemu pengunjung yang berjalan kaki dan terpaksa minggir ngasih jalan. Sekitar 10-15menitan ngojeg akhirnya keluar menuju jalan raya yang mengarah ke gerbang taman nasional, dan kamipun berenti di penginapan. Setelah kumpul, semuapun bercerita pengalaman naik ojeg tadi, ada yang teriak malah hehhehe. Jadi kalau kalian berkunjung ke sini jangan lupa uji nyali naik Ojeg Bukit dari Curug Sawer….

Setelah beberes dan istirahat sebentar kami pun balik. Pulangnya mampir dulu ke kota beli oleh-oleh kue Moci. Moci-nya yang merknya fenomenal, Moci Lampi*on (gak boleh iklan hehehe).
Setelah belanja oleh-oleh kami balik menuju Bogor, menghadapi macet dan lapar akhirnya kami mampir di salah satu warung Sunda dengan view lembah. Akhirnya sampe Bogor jam 6-an sore. Jadi lama perjalanan baik pergi dan baliknya hampir sama, sekitar 5 jam. Meski capek di jalan, tapi hati puas.. hehhehe.
Mudah-mudahan catper ini bisa jadi referensi buat kalian yang mau berkunjung kesini.
Biaya-biaya:
  • Karcis masuk Taman Nasional: Rp. 18.000/orang
  • Penginapan: Rp. 250.000/2 kamar/5 orang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Leuwiliang: Ada Pelangi di Curug-mu