Langsung ke konten utama

Unggulan

Index Blog Bagian 1: Lokasi Wisata di Bogor

Eksplor Desa Puraseda 2: Curug Salawe


Kunjungan saya pertama ke Desa Puraseda ini, di Maret 2017, saat itu mengunjungi Curug Cikoneng, dan pulangnya dalam hati saya berjanji untuk ke sini lagi untuk melihat sunset dari atas bukit. Tapi kenyataannya, di tanggal 7 Januari 2018, saya ke sini lagi tapi hunting curug-curug yang baru dibuka.
Kali ini hunting curugnya bersama temen-temen dari TRACK (Traveler-Backpacker) Kaskus Regional Bogor, berjumlah sekitar 10 orang menggunakan 7 motor. Saya berboncengan dengan Revan.
Awalnya janji berkumpul sekitar jam 7 pagi, akhirnya molor sampai lewat jam 8. Titik kumpul yang awalnya di depan IPB selanjutnya pindah di sebuah SPBU yang udah dekat Cemplang, selain bisa belanja cemilan, toilet dan juga bisa istirahat sebentar.
Setelah semua anggota kumpul, selain mas Denny yang menunggu dipertigaan Karacak, kam melanjutkan perjalanan. Melewati pertigaan Wisata kekinian, Pabangbon, kami terus menyusuri jalan yang tidak terlalu ramai. Cuaca pagi ini lumayan cerah berawan.
Dari pertigaan Kracak ke Puraseda kira-kira 15km. Mesi jauh tapi mata kita dimanjakan oleh pemandangan yang hijau di sepanjang perjalanan serta udara yang sangat sejuk.
Sampai di Desa Puraseda, di pertigaan persis sebelum jembatan kecil kami mutar kanan. Menyusuri aliran sungai dengan persawahan di sebelah kiri, kamipun memasuki perkampungan hingga sampai di Kampung Cikoneng.
Memasuki gang, motor pun jalan satu-satu, menyusup di antara rumah-rumah penduduk. Di tengah jalan (sudah) ada loket, dulu sih gak ada ya hahahha. Di sini kita dikenai tiket masuk Rp. 3.000/orang. Dari loket ke parkiran sudah tidak begitu jauh.
Melewat jembatan gantung yang goyang-goyang, kami pun parkir di depan warung. Meski terlihat Curug Cikoneng yang sangat menggoda, kami harus melanjutkan perjalanan mencari curug yang (katanya) ada yang baru.
Curug Cikoneng
Mengikuti arah ke Curug Bogor, Curug Wallet dan Curug Sawer, menyusuri aliran sungai yang mengarah ke Curug Cikoneng. Perjalanan ke Curug Bogo tidak terlalu jauh, melewati perkebunan di sisi sungai dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Sampai di loket, kami membayar Rp. 2.500/orang. 
Dekat loket kami sudah melihat Curug Bogo, naik bukit sedikit sudah kelihatan Curug Wallet. Melintasi jembatan kayu, kami sudah melihat Curug Sawer. Karena tujuan pertama adalah Curug Salawe, kami melewati Curug Sawer. Menaiki sisi bukit sebelah kiri, dengan usaha yang lumayan karena jalurnya basah dan licin, kami sampai di Curug Batok. baru beberapa menit di curug ini tiba-tiba hujan. Segera aja kami membereskan kamera dan hp masuk tas/dry bag. 
Menuju Curug Sawer
Menuju Curug Sawer
Di sini kami juga ketemu dengan pemuka masyrakat/kuncen sini, namanya Pak Mamat (lupa-lupa ingat hehehe). Beliau mengingat kan agar kami tidak memakai pakaian hitam-hitam. Setelah tahu niat kami ke Curug yang belum dibuka, beliau bermaksud mengantar dan kemudian turun menjemput rekan-rekannya.
Kami melanjutkan perjalanan, melewati perbukitan, menyusuri sungai yang tiba-tiba berubah jadi coklat. Melewati sebuah curug yang gak ada namanya, terlihat persawahan dengan terasering-terasering. Tida menyangka sama sekali di lembah yang dikelilingi bukit ini ada persawahan yang begitu indah. Hanya saja sawahnya sedang ditanami sehingga menyebabkan air sungai jadi keruh pas hujan seperti ini.
Menyusuri sungai kecil dan melewati pematang sawah, kami sampai di ujung bukit. Di sini kami disusul oleh kuncen tadi bersama 3 rekannya. Kemudian mereka memandu kami (jalannya cepat amat cing.... hahaha).
Mendaki gunung lewati lembah... #Ninja Hattori
Mendaki gunung lewati lembah... #Ninja Hattori
Naik ke bukit melalui pematang-pematang sawah, sampailah kami di satu saung yang viewnya keren habis. Dari sini bisa kelihatan Gunung Salak serta sawah.
Naik ke sisi bukit bagian kanan, kami mulai memasuki hutan perawan. Berjalan beriringan, satu-satu karena berada di sisi bukit yang di bawahnya tebing. Ini adalah jalur menuju Curug Luhur yang katanya belum dibuka untuk umum. Di tengah jalan kami berhenti, menunggu kuncen yang dari jauh keliatan sedang duduk (sepertinya sedang melakukan ritual tertentu).
Setelah menunggu agak lama, sama anak buahnya kami di suruh balik arah, karena di sana lagi ada 'Pesta' dan tidak boleh ke area curug.
Trek ke Curug Luhur
Trek ke Curug Luhur
Menunggu instruksi ke Curug Luhur
Kembali ke saung, kemudian turun ke bagian kiri bukit. Menyusuri pematang, melewati satu rumah petani kemudian menyusuri sungai kecil yang mengarah ke hutan perawan.
Menuju Curug Salawe
Menuju Curug Salawe
Kami terus berjalan menyusuri sungai kecil. Karena jarang banget pengunjung ke sini, bebatuannya licin-licin. Ph iya, hutannya boleh di kata bukan hutan perawan karena ada penambang emas liar loh.... kami sempat bertemua beberapa penambang liar. Sisa tambang mereka membentuk lobang-lobang di bukit-bukit.
Setelah berjalan cuukup lama, kami bertemu tebing batu, di sini kami mesti memanjat dan harus hati-hati banget jangan sampai tergelincir. Tebing batunya bisa mencapai kemiringan 90 derajat. Kami mencoba mengambil sisi-sisi tebing yang ditumbuhi semak. Menurut saya ini adalah trek yang ekstrim yang saya lalui.
Kondisi jalan menuju Curug Salawe
Kondisi jalan menuju Curug Salawe
Kondisi jalan menuju Curug Salawe
Kondisi jalan menuju Curug Salawe
Kondisi jalan menuju Curug Salawe
Kondisi jalan menuju Curug Salawe
Hasby
Hingga sampai di bawah curug, kami di suruh berhenti sama si kuncen sambil berteriak dalam bahasa Sunda. Setelah semua duduk dan suasana menjadi sepi, si bapak Kuncen berbicara seperti orang kerasukan, suaranya berubah dan berat. Dia menanyakan asal, maksud dan tujuan ke curug (dalam bahasa Sunda).
Bapak kuncenya pingsan (?)
Setelah di jawab semua pertanyaan oleh Kang Danny. Kamipun diijinkan ke curug tapi gak boleh lama-lama. Tiba-tiba bapak Kuncen seperti pingsan, dibantu oleh teman-temannya supaya sadar lagi.
Saya, Abay dan Kang Danny buru-buru ke atas menuju Curug. Memanjat bebatuan yang licin, akhirnya kami sampai ke curug yang keliatan sangat biasa ini. Curugnya terlihat unik, bentuknya zig-zag mengikuti bentuk bebatuan yang dilewatinya. Kemiringannya sekitar 75 derajat. Terdapat kolam kecil yang kemudian jatuh lagi ke bawah.
Naik ke Curug Salawe
Ini saya di Curug Salawe
Ini Abay di Curug Salawe
Karena tidak bisa berlama-lama di sini, kami buru-buru mengambil beberapa foto. Setelah selesai kemudian kami mulai turun. Melihat kami sudah selesai, bapak Kuncen dan teman-temannya duluan turun meninggalkan kami. Tadinya kami berencana mengasih sekedar uang rokok, tapi sampai dibawah dan pulang, kami tidak melihat lagi Pak Mamat dan teman-temannya... yo wes semoga Pak Mamat dapat pahala karena sudah mengantar kami šŸ˜Š.
Selanjutnya kami turun yang jalannya tidak lebih mudah dibanding naik hehehe.
Kondisi turun
Kondisi turun
Nah sampai di curug yang belum ada namanya tadi kami semua nyebur, lumayan buat menghilangkan capek hehehe.
Habis main air di curug ini kemudian kami melanjutkan ke artikel berikut.. cek di sini yes......
Main air di curug yang gak ada namanya
Main air di curug yang gak ada namanya
Main air di curug yang gak ada namanya
Link terkait:









Komentar

Postingan Populer