Bintan-Breathtaking Journey III: Rumah Arang, Bukit Pasir Busung dan Bintan Treasure Bay

Setelah dari Pulau Panyengat, liat di artikel sebelumnya, saya dan Revan melanjutkan perjalanan ke Busung, tujuan kali ini adalah Gurun Pasir dan Danau Biru serta Rumah Arang. Jarak dari Dermaga ke Busung ini sekitar 50km ke arah Barat. Jadi kebayang kan perjalanan hari ini dari Pantai Trikora-Pulau Panyengat-Busung kami udah lebih dari 1/2 jalan keliling pulau Bintan hahahaha.
Mostly trek yang kami lewati adalah kawasan yang sepi penduduk, berasa pulang mudik ke Padang naik bus melewati lintas Sumatera, cuman bedanya sekarang naik motor.
Jalanan mulus, dan lurus sesekali bergelombang, anginnya yang kuat apalagi jika berpapasan dengan mobil yang melaju kencang.
Kami juga melewati Bukit Bintan yang terkenal dengan  durennya, saying belum musimnya. Kami juga melewati sekitar 3 buah jembatan yang melewati sungai besar, dari atas kelihatan muara dan laut.
Memasuki Busung, kami berhenti, karena terlihat ada danau biru kecil, dipinggir jalan, bertanya ke penduduk local lokasi Bukit Pasir, ternyata masih terus hingga melewati sebuah jembatan besar. nah kira-kira bebera kilo setelah jembatan besar, terlihat di sebelah kiri danau-danau biru bekas tambang kaolin. Kami memasuki jalan yang hanya berupa tanah kapur/kaolin.
Kira-kira 100 meter kami sudah memasuki area Bukit Pasir dan Danau Biru. Sebearnya ini adalah bekas tambang kaolin, yaitu sejenis pasir yang dipakai untuk membuat keramik. Danau ini juga ditemukan di Pulau Bangka dan Belitung.
Beda dengan bekas tambang di Bangka dan Belitung, bukit pasir disini membentuk gundukan-gundukan bukit dan alur air yang terbentuk akibat aliran air hujan.

5. Rumah Arang/Igloo
Setelah kami memarkirkan motor di sebuah warung, kami menanyakan lokasi Rumah Arang yang ada di sekitaran sana. Setelah dikasih ancar-ancar kami meluncur ke Rumah Arang. Barang bawaan kami titip di warung.
Kembali ke arah kami datang, setelah jembatan (kalau dari Tanjung Pinang bearti sebelum jembatan), kami belok ke kiri memasuki jalan Desa Kuala Sempang. Awalnya dipertigaan (yang ada tugu kecil) kami ambil kanan yang ternyata salah. kembali lagi, dari tunggu ambil kiri, disini, memasuki desa, kami agak bingung dan bertanya beberapa kali ke penduduk local akhirnya kami menemukan lokasi Rumah Arang.
 
Rumah Arang ini tersembunyi di samping sebuah rumah dan berada di pinggir sungai. Rumah Arang yang menyerupai Igloo ini adalah rumah pembuatan arang yang sudah ditinggal oleh Suku Anak Laut karena pembuatan arang dari kayu bakau sudah dilarang oleh pemerintah.Setelah foto-foto syantik.. kami kembali lagi ke Bukit Pasir. 
 
 

6. BukitPasir dan Danau Biru Busung
Balik dari Rumah Arang kami melanjutkan mengeksplore Bukit Pasir dan Danau Biru. Oh iya, kami disini hanya membayar karcis parkir sebesar Rp. 2.000 saja tanpa karcis masuk.
Hari sudah semakin sore ketika kami memasuki hamparan (mirip) padang pasir ini. Kagum..!!!
 
 
 
Alur-alur air hujan bekerja membentuk bukit pasir. Pasir-pasir silica/kaolin yang basah dan menyerap air dan begitu susah kering walau panas terik membuat bukit-bukit pasir ini jadi kokoh. Tapi mesti hati-hati juga kalau tergelincir atau jatuh membuat kulit memar dan luka seperti Revan yang jatuh ketika loncat-loncat :D.
Untuk spot foto juga di sediakan di area Danau Biru, cukup membayar Rp. 5.000. Ada beberapa danau di sini, yang semuanya adalah bekas tambang kaolin. Meski tidak sebiru Danau kaolin di Pulau Bangka, tapi pemandangannya tidak kalah bagus apalagi ditambah dengan hamparan bukit pasir seolah-olah ada oase di tengah padang pasir.
 
 
Di sini juga disewakan kendaraan buat trek di pasir seperti yang kita temui di Pantai Parangtritis atau Pantai Klayar. Kebanyak disewa oleh turis-turis Singapura.
Di danau biru juga tersedia spot foto, pengunjung bisa berfoto dengan membayar Rp. 5.000.
Semakin sore jumlah pengunjung sepertinya bertambah karena ini juga merupakan spot sunset yang bagus. Tapi karena kami mesti pulang ke Trikora, sebelum gelap kami sudah kembali dan hanya menikmati sunset yang indah di jalan.
Ke arah Trikora ternyata kami salah rute, kami tidak melewati rute jalan biasa melainkan jalan baru... ya baru jadi melewati hutan dan perkebunan yang sangat-sangat gelap. Di tambah dengan anginnya yang cukup kuat benar-benar suatu petualangan yang menegangkan

7. Treasure Bay
Setelah petualangan selama 2 hari, sekarang saatnya bersantai. Tujuan kal ini adalah Treasure Bay. Jarak dari Pantai Trikora ke Treasure Bay kira-kira 50km lebih atau sekitar 1 jam perjalanan dengan motor, jauh-jauh ya guys destinasi wisata disini hiks hiks hiks..
Berbeda dengan destinasi sebelumnya, Treasure Bay ke atas menyusuri Pantai Trikora, selanjutnya memasuki perkampungan serta hutan-hutan dan kebun. Seperti sebelumnya, jalanan sangat sepi. Hingga sampai di gerbang Kawasan wisata Lagoi, di pos penjagaan kami hanya ditanya tujuannya kemana.
Selanjutnya memasuki kawasan wisata yang luasnya lebih dari 200 hektar ini, kita disuguhi hutan di kiri kanan. Di sini juga terdapat kebun binatang, lapangan golf serta resort, dll. Jadi ini merupakan kawasan wisata terpadu.
Sampai di Treasure Bay, kami parkir (biaya parkir Rp. 5.000) dan  disambut personally oleh pegawai berseragam dengan ramah. Setelah membayar tiket masuk di loket Rp. 100.000, mendapat tiket dan gelang yang dipakai selama di dalam. Selanjutnya kami diantar oleh petugas menuju pintu masuk.
Sampai di dalam, terlihat kolam renang yang membentang luas. Di pinggir kolam terlihat pohon-pohon besar dan pohon kelapa lengkap dengan bangku-bangku untuk berjemur. Jadi memasuki area kolam ini berasa memasuki pantai-pantai private :D.
 
 
 
Karena masih pagi, hanya terlihat beberapa pengunjung. Terlihat petugas sedang membersihkan area kolam (yang memang sudah bersih) dan menata aneka properti. Setiap bertemu petugas mereka menegur dengan ramah. Setelah mengambil tempat kemudian kami menceburkan diri ke kolam.
Santai berasa di pantai
 
 
 
Kedalaman kolam bervariasi, mulai dari semata kaki hingga 2.5m. Karena dasar kolam dibuat berwarna putih, jadilah terlihat air kolam sebening kristal. Hanya saja, karena cuaca lumayan terik, membuat kulit langsung gosong hahahhaa. Jadi buat yang sayang sama kulitnya, sebaiknya berenang di sore hari.
Oh oya, disini juga banyak loh permainan/water sport, dan harga untuk setiap permainan tertera di loket pembelian karcis. Tapi karena harganya standar turis asing (yang mendominasi) jadilah kami hanya berenang hahahaha.
Puas berenang kami menuju foodcourt. Tersedia aneka makanan tradisional dan barat di sini. Harganya lumayan, tapi masih terjangkau kantong. Sekali makan sekitar Rp. 40.000.
Foodcourt
Selesai makan, kami buru-buru balik karena harus check-out jam 12 dan melanjutkan perjalanan lagi ke Tanjung Pinang karena pesawatnya besok siang.
Di Tanjung Pinang kami menginap di Hotel yang lumayan besar kamarnya, bersih dan sarapannya enak dengan tarif Rp. 300.00-an per malam.
Malamnya ditutup dengan makan malam dengan menu spesial, ikan bakar yang benar-benar enak...... hmmm.
Setiap wisata yang bagus akan sempurna dengan kulinernya yang enak bukan?

 
 Link terkait:
Bintan: Pantai Trikora dan Pulau Pasir Putih
-  Bintan: Vihara Seribu Wajah dan Pulau Panyengat 

Komentar

Postingan Populer