Bintan-Breathtaking Journey II: Vihara Seribu Wajah dan Pulau Panyengat

Hari Jumat, 22 September 2017 adalah hari kedua kami di Pulau Bintan. Kali ini kami akan mengunjungi Vihara Seribu Wajah (Vihara Ksitigarbha Bodhisattva), Pulau Panyengat dan Danau Biru/Gurun Pasir Busung.
Karena lokasi wisata satu ke lainnya berjauhan, kami berangkat pagi-pagi dari Trikora. Di dukung oleh cuaca yang sangat cerah, serta jalanan yang sangat sepi, motor kami pun melaju tanpa hambatan. Selain pemandangan khas pesisir, juga di banyak tempat di kiri kanan jalan kita bis amelihat pedagang makanan kecil yang sangat khas, bungkusan kecil dari daun yang digantung dan di tumpuk-tumpuk.
Di tengah perjalanan kami mampir sebentar untuk sarapan pagi. Di warung makan juga terlihat menjual makanan kecil yang bikin penasaran. Setelah ditanya dan dilihat, ternyata makanan itu adalah tape singkong yang dibungkus daun pisang dan otak-otak yang di bungkus dengan daun kelapa tua.


4. Vihara Seribu Wajah (Vihara Ksitigarbha Bodhisattva)
Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Pinang. Dengan mengandalkan Google Maps, setelah kira-kira 1 jam lebih perjalanan kami akhirnya sampai di Vihara Seribu Wajah. Lokasi Vihara ini berada di ketinggian dan sepi penduduk.
Sebernarnya di bagian depan sebelum masuk ke gerbang Vihara, sudah ada lapangan parkir terbuka, tapi karena jalannya lumayan menanjak, umumnya pengunjung membawa kendaraan langsung ke atas dan parkir di depan gerbang Vihara.
Ada sekitar 2 mobil yang parkir di dekat gerbang masuk. Dan ini tentu saja menyulitkan pengunjung lain yang ingin mengambil foto overview dari depan.
Tidak ada tiket masuk ke Vihara, hanya membayar parkir Rp. 5.000. Tidak terlalu banyak pengunjung hari ini.
Di gerbang terdapat 2 patung dewa di kiri dan kanan. Berjalan menuju Vihara berasa berada di kerajaan-kerajaan di film-film Mandarin.
Setelah melewati lorong, kita akan menemukan lapangan luas, yang dikiri kanan terdapat patung para dewa. Di depan terdapat patung murid-murid Budha dengan berbagai pose. Jadi meskipun Vihara ini dinamakan Seribu Wajah, sebenarnya hanya terdapat 500 patung saja.
 
 
Selain patung-patung, juga terdapat taman-taman menyerupai taman-taman di kerajaan.
Nah dulu Vihara ini tidak dibuka untuk umum (wisatawan) hanya bagi yang beribadah saja. Tapi sekitar Imlek 2017, tempat ini dibuka untuk umum. Nah karena sudah terbuka untuk umum, sekarang di banyak bagian sudah dibangun pagar-pagar terutama di daerah patung dan gate depan. Bisa jadi ini pagar-pagar ini dibangun untuk menghindari tangan-tangan jahil para pengunjung yang nakal.
Naik ke bagian kiri atas melewati tangga, terdapat ruang peribadahan dan patung Budha.
Buat kalian yang mau beristirahat juga ada satu warung kecil dibagian belakang serta juga ada toilet yang bersih.
Karena harus menyeberang ke Pulau panyengat, kami tidak bisa terlalu lama di sini dan kemudian melanjutkan perjalanan.

5. Pulau Panyengat
Dari Vihara ke penyeberangan memakan waktu kira-kira 30 menit perjalanan. Sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura, yang ternyata kami salah hahahha. Karena pelabuhan ini untuk penyeberangan antar pulau, nah ke Pulau Panyengat ada pelabuhan kecil lagi yang khusus ke Pulau Panyengat, gak berapa jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura (kurang dari 100m).
Sampai dipelabuhan, kami parkir motor dengan hanya membayar Rp. 2.000 saja, parkir nya unik loh, berada menjorok kelaut, alias di atas permukaan laut. Untuk menyeberang kami naik kapal pompong dengan tarif Rp. 7.000 per orang.
 
Jarak dari pelabuhan ke Pulau Panyengat sekitar 2km, jadi waktu tempuh naik kapal pompon sekitar 20 menit. Dai jauh sudah kelihatan ciri khas pulau ini yaitu Mesjid Sampai di pelabuhan Pulau Panyengat kami langsung disambut pemandangan rumah makan-rumah makan dengan menu andalan ikan bakar.
Berjalan kaki sekitar 100m kami menuju ke Mesjid Raya Sultan Riau yang berwarna kuning mencolok. Juga ada kendaraan semacam becak motor yang bisa disewa pengunjung untuk berkeliling lokasi-lokasi wisata di pulau ini.
Karena hari ini hari Jumat, banyak turis ataupun masyarakat dari Tanjungpinang yang sengaja ke masjid bersejarah ini untuk Sholat Jumat.
Mesjid ini sangat unik, selain didominasi oleh warna kuning, di masjid ini juga terdapat 2 rumah kecil disisi kiri kanan yang diperuntukkan buat musyafir dan tempat bermusyawarah. Juga terdapat 2 bale-bale tempat menaruh makanan saat kenduri atau berbuka puasa, tapi pas Jumat ini, bale-bale ini dipakai untuk sholat dan istirahat. Untuk tempat berwudu ada sisi kiri dan kanan masjid.

Oh iya, kubahnya kalau dilihat dari atas akan berjumlah 17 yang menunjukkan jumlah rakaat sholat sehari semalam. Dan masjid ini adalah masjid pertama di Indonesia yang memakai kubah. Konon masjid ini dibangun dengan campuran pasir dan kapur dengan memakai putih telur sebagai perekat hingga masih berdiri kokoh sampai sekarang (1761).
Dari mesjid bisa melihat view laut
 
Setelah istirahat kemudian dilanjutkan Sholat Jumat. Usai Jumatan kami makan siang disalah satu warung yang cukup ramai di sini. Tentu saja menunya ikan bakar yang masih segar dan harga yang tidak terlalu mahal.
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Busung.
Makan dengan menu ikan bakar segar

Link terkait:
- Bintan: Pantai Trikora dan Pulau Pasir Putih
- Bintan: Rumah Arang, Bukit Pasir Busung dan Bintan Treasure Bay

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Leuwiliang: Ada Pelangi di Curug-mu