Now Everybody Can Climb-Gunung Parang via ferrata




"Now Everybody Can Climb"


Ditemani Revan dan Icha, dari Bogor kami bertiga menuju Purwakarta. Tidak ada kemacetan di sepanjang jalan, maklum hari itu adalah Lebaran Haji, 1 September 2017. Pagi itu kami berangkat sekitar jam 8 pagi dan cuaca juga cerah.
Meski di jalan saya masih melempar opsi apakah mau ke Majalengka, Karawang Selatan atau masih tetap ke Purwakarta, akhirnya kami memutuskan ke rencana awal, ke Purwakarta, melakukan pendakian via ferrata, Gunung Parang, via ferrata tertinggi di Asia.
Dan di jalan juga kami menghubungi salah satu operator via ferrata Gunung Parang melalui Desa Cihuni, Kang Baban namnya. Kami booking untuk pendakian besok pagi dan juga penginapan. Ternyata masih ada penginapan yang masih kosong.
Sekitar jam 11 kami keluar tol Jatiluhur. Karena masih siang, kami berencana ke Curug Suhada, yang kalau di Google Map jaraknya sekitar 1 jam dari kota. Selain ke Curug Suhada kami berniat mampir di rumah makan yang nanti kami lewati. Ternyata di sepanjang jalan kami tidak menemukan satupun rumah makan yang buka, maklum Lebaran Haji. Mengingat jalan masuk menuju curug dan perut sudah mulai memberontak, kami memutuskan kembali ke kota.
Di kota, tepatnya pas pertigaan keluar tol Jatiluhur kami makan di sebuah rumah makan yang besar dan rame pengunjungnya. Jujur, sate maranggi dan lauk yang disediakan rasanya tidak ada yang istimewa, tapi Alhamdulillah bisa buat mengganjal perut. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan menuju Gunung Parang.
Maksi dulu...
Sebenarnya jalan menuju Gunung Parang lumayan gampang. Dari kota kita arahkan kendaraan menuju Plered. Di pertigaan pasar/stasiun Plered kita ambil kanan. Di sini kondisi jalan masih lumayan bagus.
Karena Google Maps memberi arah melewati jalan-jalan kecil dan kondisinya rusak, kami terus aja mengikuti jalan besar. Sempat 2x menyanyakan ke penduduk lokal. Akhirnya kami menemukan jalan desa menuju Gunung Parang. Sebelumnya masih ada angkot, di sini sudah terlihat angkot. Kondisi jalannya kecil dan rusak dimana-mana. Tapi dibeberapa titik sudah ada pekerjaan perbaikan-perbaikan dan pelebaran jalan.
View di sepanjang perjalanan sangatlah bagus, dikiri kanan terlihat sawah yang sudah panen. Di kanan sudah terlihat Gunung Parang berdiri gagah. Ada spot dimana kita berada dipuncak bukit, memandang jauh kebawah terlihat jalanan berkelak-kelok juga terlihat Waduk Jatiluhur yang terlihat samar-samar karena pantulan cahaya matahari. 
Salah satu view ke Gn Parang
Gunung Parang
Menyisir kaki Gunung Parang, di sepanjang jalan terlihat iklan operator pendakian. Tapi tujuan kami adalah Desa Cihuni. Tidak beberapa lama kami menemukan Desa Cihuni. Di sini parkiran sangat sedikit hanya cukup beberapa mobil. Kami parkir di depan sebuah warung, yang mana sudah ada 3 mobil yang parkir.
Memasuki gerbang wisata, seharusnya kami bayar tiket, tapi karena menginap, kami tidak dipungut bayaran. Terlihat beberapa saung/homestay di area bawah, dan beberapa di atas. 

Kami bertemu dengan Kang Baban, yang baru saja turun habis mengantar pengunjung. Kang Baban menawarkan homestay di bawah, dengan harga Rp. 50.000 per orang dengan kamar mandi di luar. Untuk privat, dengan harga Rp. 300.000 kamar mandi di dalam, dan berada di lereng bukit. Kami memilih yang privat. 
Penginapan di lereng bukit
Kondisi penginapan
Homestay yang berada di lereg bukit ini, ternyata kamarnya sangat luas, bisa menampung 20 orang atau lebih. Dari sini kita bisa melihat desa dan Waduk Jatiluhur di kejauhan.
Disini tidak perlu takut kekurangan makanan, ada kantin (punya kang Baban) yang menyediakan makan besar dan kecil serta minuman. 
Kantin sekaligus sekretariat
 
 
Tidak bayak yang dilakukan malam itu karena harus tidur cepat untuk persiapan pendakian besok pagi.
Desa Cihuni di temaram senja
 
 
Gak tau ya lagi ngapain
Bangun pagi, mengisi waktu sampe jam 8, kami hanya foto-foto dan menikmati pemandangan. Setelah mandi dan sarapan, kami kumpul di kantin sekaligus sekretariat. Setelah membayar uang pendaftaran, Rp. 150.000 per orang untuk pendakian 300m dan uang sewa Rp. 300.000, selanjutnya kami briefing. Jumlah peserta sekitar 15 orang (12 hanya sampai 300m dan 3 orang sampai ke puncak).
Pertama-tama kita semua  dipakaikan body harness lengkap dengan 2 sling (pengait) dan helm. Peserta sebaiknya memakai sepatu gunung dan sarung tangan (kebetulan saya gak pakai karena ketinggaan di mobil).
Persiapan pemasangan alat safety
Foto session
Setelah perlengkapan keselamatan terpasang dan foto session, kami melanjutkan trekking sekitar 15 menit. Ini masih pemanasan, belum pendakian yang sebenarnya hehehe. Sampai di suatu area yang rata kami di briefing oleh Kang Baban (di temani oleh satu guide lagi). Jadi intinya, sesuai namanya via ferrata, kita akan melakukan pendakian menggunakan tangga-tangga besi yang dipersiapkan disepanjang jalur pendakian. Ada 2 sling pada tiap pendaki, satu sling dikaitkan di tali/besi baja yang melintang disepanjang jalur dan satu lagi di tangga besi. Jadi kita mengaitkannya bergantian, yang di tali baja sekitar tiap 1m, dan di tangga besi setiap 3-4 anak tangga, atau maksimal yang bisa dijangkau. Jadi kita harus mengaitkan sling ini meskipun dalam keadaan istirahat. Di tempat briefing, salah satu peserta wanita kelihatan pucat dan keringat dingin, jadi dia dan pasangannya tidak melanjutkan pendakian.
Trekking menuju tempat pendakian
Briefing
View di area briefing
Setelah briefing, dimulailah pendakian via ferrata. Untuk keselamatan, kamera DSRL saya dititip ke guide, jadi beliau yang mengambil foto kami selama pendakian. Di awal pendakian, kemiringan gunung batu ini sekitar 70-80 derajat. Melihat ke belakang, terlihat hamparan bukit hijau dan waduk Jatiluhur dikejauhan. Karena musim panas, cahaya matahari terlalu over sehingga waduk kelihatan berkabut dan keperakan. 
 
 
 
Sementara Kang Baban berada di bawah untuk mengawal pendaki dan satu guide lagi berada di posisi-posisi ‘bagus’ untuk mengambil spot-spot foto. Selanjutnya kemiringinan sekitar 90 derajat dan memutar sedit sisi bukit. Di sini dikejauhan terlihat hotel yang dibangun menggantung disisi bukit. Inilah hotel yang rencananya akan dibangun 10 buah yang akan merupakan satu-satunya hotel di Indonesia yang berada di tebing bukit. Pendakian dengan kemiringan 90 derajat menurut saya lebih ringan dibanding kemiringannya kurang dari 90, karena kalau makin kurang, beban badan kita makin berat, apalagi faktor ‘U’, bisa sakit nih pinggang hahahaha.
 
 
Di salah satu spot, peserta bergantian berfoto sambil lepas tangan, dan hanya bergantung pada sling yang dkaitkan ke anak tangga. Karena (alasan) talinya saya sedikit panjang, jadinya gak pas posisinya hahahaha.

 
 
Gaya apa ini? hahahah
Sampai di suatu titik lagi dimana ada satu pohon yang lumayan besar, kami istirahat sejenak. Selanjutnya kami memasuki trek yang melingkar, menyusuri sisi bukit. Di sisi ini makan waktu yang cukup lama, karena banyak foto session nya hahahha. 
 
 
Salah satunya mengibarkan bendera Sang Merah Putih, kebetulan salah satu peserta membawa bendera.
 
 
Di ujung trek, ada jalur terpisah, ada yang ke atas untuk melanjutkan pendakian dan ada yang kebawah, trek balik ke base. Untuk yang ke atas, sudah menunggu seorang guide untuk mengawal ke atas. 10 orang peserta kembali ke bawh dan 3 peserta melanjutkan ke puncak. Ternyata trek turun lebih memakan tenaga karena menahan beban tubuh kita. Saya dan Revan duluan turun, Kang Baban ikut menyusul, untuk mempercepat turun, saya dibantu Kang Baban..... (ada deh caranya hahahhaha). 
Yang mau ke puncak
Trek turun
 
 
Sampai di bawah hampir jam 12 an, jadi total pendakian kami sekitar 3 jam. Sampai di kantin, satu-satunya benda paling berharga di dunia saat itu adalah kelapa muda..... Aduuuh nikmatnya.....
Setelah istirahat sebentar dan bersih-bersih, sehabis zuhur kami meninggalkan Gunung Parang dan Desa Cihuni, terima kasih atas petualangannya hari ini......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Leuwiliang: Ada Pelangi di Curug-mu