Mengunjungi Curug Cakrawardana dan Leuwi Hejo

Tidak bisa dipungkiri, Bogor mempunyai banyak sekali curug karena berada di kawasan pegunungan (Salak-Pangrango). Baik yang berada di Taman Nasional maupun tidak.
Melengkapi blog saya sebelumnya mengenai curug, kali ini saya berkunjung ke Curug Cakrawardana dan Leuwi Hejo.
Dari rumah sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 kilo-an. Melihat rute di Google Map, jalanan sih lancar-lancar saja. Dari rumah di Jalan Baru, pertama-tama masuk tol BORR keluar Sentul , perempatan lurus saja.
Suasana asri di Sentul City
Nah setelah ketemu bunderan sebelum Jungleland, di Map kita masuk ke perumahan, eh setelah berapa kilometer ternyata ditutup/tidak boleh lewat oleh satpam. Ada beberapa motor/mobil yang harus muter lagi.
tempat nyasar
Setelah pakai MPS (mouth position system) ketemu sekelompok anak muda yang bagi-bagi rute ke Leuwi Hejo, ternyata patokannya Jungleland, disamping pos masuk ada jalan desa.
Kita ikuti jalan desa, beberapa kilo nanti ada pertigaan, kanan ke Gunung Pancar (Hutan Pinus dan Air Panas Gunung Pancar) dan ke kirim ke Leuwi Hejo. Nah dari sana kita lurus saja..... sampai ketemu tanda penunjuk lokasi di sebelah kanan.
View sepanjang jalan mulai dari Sentul City sampai lokasi cukup menyenangkan karena berada diperbukitan. Hanya saja di tengah perjalanan ada jalan yang cukup parah kondisinya.
Karena jalan nya jalan desa, kita mesti hati-hati berkendaraan, kalau ada kendaraan berpapasan kadang-kadang salah atu harus mengalah atau melambatkan laju kendaraan. Ditambah lagi jalanan naik-turun dan berbelok-belok dan di kiri-kanan jurang dibeberapa tempat.
Track ini merupakan salah satu track favorit para goweser aka biker, ini terlihat dengan banyaknya rombongan biker atau perorangan.
Oh iya, setelah menemukan plang lokasi Leuwi Hejo, siang itu (02.01.2016) parkiran sudah penuh sampai ke jalan...Oke saya memutuskan mengunjungi Curug Kembar Ciberem dulu, berjarak sekitar 8km. Eh sampai di pertigaan arah ke Curug ciberem, ternyata jalannya hanya cukup untuk satu mobil lewat, kebanyakan goweser kesana. Akhirnya saya memutuskan balik menuju Leuwi Hejo.
1 km sebelum Leuwi Hejo ada plang lokasi Curug Cakrawardana (saya baru denger nih nama curug ini :D). Saya memutuskan mampir dulu ke curug ini. Pertama-tama harus bayar dulu Rp. 10.000. Perjalanan menuju parkiran curug ini kira-kira 300m menyusuri pinggir bukit, sepertinya jalannya baru di buat.
Ternyata bener, banyak pekerja masih merapikan pekerjaan di sana. Parkirannya masih campur antara mobil dan motor, sehingga jalan keluar ditutup oleh banyaknya motor :D.
Dipintu masuk kita di tarik karcis Rp. 10.000. Untuk menuju curug kita harus menaiki tangga-tangga semen yang baru di buat, dan di kanan kiri ada saung-saung tempat istirahat pengunjung. Sekitar 100 m di depan kita menemukan Curug Cakrawardana.
jalan menuju Curug Cakrawardana
Curug Cakrawardana
 Saat itu airnya keruh. mungkin karena hujan dan aliran sungainya mata airnya jauh. Tidak ada kolam seperti kebanyakan curug, airnya dangkal sehingga anak-anak bebas bermain di bawah air terjun.
jalan di sebelah kanan, agak tertutup ada curug kecil berair jernih, di sini saya agak lama menghabiskan waktu berfoto-foto.
Setelah puas berfoto-foto, saya putuskan ke Leuwi Hejo, tapi karena parkirnya susah keluar. Saya tanya-tanya ke tukang parkir, yang ternyata jalan kecil dibawah (sebelum parkir itu menuju Leuwi Hejo. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki menuju jalan setapak tersebut.
Perjalanan ke Leuwi Hejo cukup jauh menurut saya sama seperti ke Cigamea, tapi pemandangan nya lebih bagus disini, dengan latar perbukitan, sawah dan sungai (aliran Leuwi Hejo).
Beberapa ratus meter di depan ada gerbang sederhana yg di jaga pemuda sana menarik karcis masuk, kita harus bayar Rp. 10.000, jangan lupa karcis nya di simpan karena di depan akan ditanya lagi karcisnya.
loket karcis
Ternyata siang itu banyak sekali manusia mendatangi curug ini hahaha, benar-benar di luar dugaan banyaknya, sampai jalan aja macet.
pengunjungnya rame :(
Untuk menuju Curug sendiri kita harus naik terus sampai mentok, dan harus loncat batu-batu besar.
Curug ini diapit oleh tebing kiri kanan, sehingga untuk naik ke atas kita harus berpegangan pada tali. Banyak pengunjung yang loncat dari atas ke kolam yang cukup dalam di bawah yang berwarna hijau, tidak salah  Curug ini di sebut Hejo.
Setelah bersusah payah mengambil photo dan cukup puas, saya memutuskan balik. Di aliran sungai yang cukup bagus saya coba lagi mengambil beberapa poto.
Eh beberapa saat kemudian hujan turun lebat, akhirnya basah kuyup..... untuk ada ibu-ibu ngasih kresek hitam yang saya pakai buat menutupi kepala kamera :D.
Setelah istirahat sebentar di rumah penduduk akhirnya pulang setelah ganti baju yang basah dengan jaket :D.
Sepanjang jalan pulang hujan benar-benar lebat sehingga harus extra hati-hati berkendara. Alhamdulillah sampai di rumah jam 5 sore.....
Hmmmm cukup menyenangkan perjalanan hari ini... what's next??? :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengunjungi Pura Pasar Agung dan Kampoeng Salaka-Bogor

Mengunjungi Curug Cilontar: Curug tersembunyi di Leuwiliang-Bogor

Leuwiliang: Ada Pelangi di Curug-mu