Menikmati Curug Golek, Berasa Punya Curug Sendiri.................!!!!

Sebenarnya perjalanan ke Curug Golek ini adalah lanjutan perjalanan yang tertunda sebelumnya. Curug ini pernah saya singgung di perjalanan sebelumnya yaitu sewaktu ke Curug Mariuk. Perjalanan ke Curug Mariuk bisa dilihat disini:
Nah rute perjalanan ke Curug Golek sama persis dengan ke Curug Mariuk... gak termasuk hikingnya ya... cuman sampai pertigaan aja, alias dekat pintu masuk.
Perjalanan kemaren, bersama Revan, tepatnya 20 Nopember 2016 di mulai jam 5.30 dari rencana awal berangkat jam 5 pagi hehehehe. Hari minggu, jalanan sangat sepi dan cuaca lumayan cerah. Berbekal backpack (yang isinya pakaian ganti, kamera dan asesorisnya) dan tripod, kamipun berangkat dengan riang gembira... #halah..
Sepanjang perjalanan dari Jalan Baru ke Karang Tengah, karena belum sarapan kami sarapan dulu. Nasi Uduk di sebuah warung sederhana yang ramai oleh traveler dan penduduk local. Dengan porsi yang lumayan, saya cukup 1 bungkus aja sementara Revan 2 bungkus hehehhe. Harga Nasi Uduknya murah, cuman Rp. 3 ribu hehehhe..Abis makan, kami bungkus gorengan dan bacan karena yakin banget di sepanjang perjalanan hiking gak bakalan ketemu warung...
Sarapan dulu yak...
Sampai di gerbang masuk ke Curug Mariuk... sebenarnya sih bukan gerbang masuk ya.. secara ke Curugnya masih 1 jam-an lebih jalan hahaha, waktu sudah menunjukkan sekitar jam 7.15 pagi. Dari gerbang ini jalanan berbatu dan menanjak, di kanan terlihat aliran kali kecil yang berair jernih. Dari isni saya memutuskan jalan kaki dan Revan membawa motor. Tujuan awal kami adalah sebuah Villa yang terlihat di Puncak bukit seperti yang dikasih tau warga setempat sewaktu ke Curug Mariuk.
Sepanjang jalan kita bisa lihat sawah membentang luas, baik yang sudah menguning, yang masih hijau atau yang baru ditanam. Di kejauhan kita bisa lihat kota Bogor/Cibinong dengan pabrik semennya yang menjulang. Pemandangan indah ini sedikit 'menghambat' perjalananan karena sering berhenti dulu buat cari angle buat poto-poto heheheh.
Salah satu view di sepanjang perjalanan
Salah satu view di sepanjang perjalanan
Sampai di atas bukit, jalanan sudah berupa jalan setapak tanah merah. Pas dipertigaan kami ambil kanan karena villa nya di kanan. Sampai di villa kami kira ada yang tinggal disana buat sekedar menanyakan jalan ke curug, ternyata tidak ada orang. Villanya sudah tua, tertutup rapat dikelilingi semak, kebayang dong kalo tiba-tiba ada yang ngintip dari dalam kayak di film-film Hollywood... hiiiiiiiii.
Kayaknya villa ini adalah tempat berkumpul trailer-trailer karena ada plang yang bertuliskan Rubicon Track bla-bla-bla gitu. Ah udah lah...... gak usah dibahas lagi hehehe...
Dari beberapa track yang ada kami memutuskan ambil track kiri yang ada sedikit pinus, dan ada 2 jalur lagi jalur kiri yang ada saung reot. Di sini kami bertemu dengan bapak-bapak abis dari kebon. Revan menanyakan arah ke Curug..... saya gak tau ya apa yang dibicarain karena pakai Sunda pisan hehehehe...
Pokoknya katanya tar didepan ada kebon singkong, dan ambil jalur turun disebelah kiri. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan, di suatu titik kami berhenti sebentar liat situasi, gak taunya dari atas bukit ada mas-mas (tadi di bawah ketemu sih ama dia) dan kami menanyakan lagi jalur ke curug. Akhirnya kami memutuskan untuk diantar.
Sampai di kebon singkong yang dimaksud, ada jalan ke bawah (kalo gak bawa guide dijamin gak bakalan tahu deh hehehe). Kami pun mengikuti guide ke curug. Rute menurun ini menyusuri pinggang bukit dengan titik-titik yang rawan sekali longsor. Ini terlihat dibeberapa titik bekas longsoran. Jadi kita harus hati-hati melangkah. Di kejauhan di kaki bukit kita bisa lihat perkampungan kecil dengan persawahan yang membentang luas dengan system terasering. Sepertinya jaraknya jauh banget dari tempat kami padahal pengen sekali ke sana hehehehe. Oh iya, kata guide nya, nama bukitnya Gunung Sangar. Bukitnya saat itu gak terlalu jelas kelihatan karena selalu berkabut.
Sempat saya berfikir, gimana ya kalau masyarakat di sana ada yang sakit atau melahirkan? Padahal jalur yang dilewati adalah jalur yang sama kami lewati, dah terbayang susahnya jalan kaki trekking naik turun bukit...
Gak beberapa lama kami mendengar suara gemuruh air terjun. Wah pasti itulah air terjun yang kami tuju. Jreng-jreng..... gak beberapa lama air terjunnya kelihatan, wuih hilang semua capek ini..... Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 8.30.
Pertama terlihat adalah curug kecil yang gak terlalu tinggi denga kolamnya berwarna kehijauan. Gak taunya curug sebenarnya masih di atas.... oalaaaa...Melewati bebatuan besar, barulah terlihat curug utamanya.
(Karena sudah sampai, kami memberi tips ke guide Rp. 25rb, jadi otomatis cuman tinggal saya dan Revan di curug ini... berasa milik pribadi hahahha.)
Curug utama tidak terlalu tinggi, palingan 5-6 meter. Airnya jatuh di kolam yang berwarna kehijauan, berair jernih dan sejuk sekali. Tebing yang mengelilinginya menambah cantik curug ini. Kalau dilihat-lihat, curug ini agak mirip dengan Curug Alami yang berada di Salak Endah (Taman Nasional Gunung Halimun-Salak).
Di bawah curug kami tidak mandi, palingan cuman poto-poto aja. Untuk naik ke atas buat loncat juga tidak memungkinkan karena tebing. Mungkin bisa ke atas kalau lewat jalan lain.
Puas berpoto-poto ganteng, kami mulai lapar, saat nya makan bekal hehehehe.....
Nah gak lengkap rasanya kalau ke curug kalo gak mandi....
Kami memilih curug yang dibawah buat mandi, karena tebingnya bisa dipakai buat loncat-loncat. Tebingnya gak terlalu tinggi, di bawah curug kita bisa naik, gampang banget karena banyak pijakan. Oh iya, kolamnya gak terlalu dalam loh hahahha, jadi kalau kita loncat bisa menyentuh dasar...
Tapi lumayan lah, mandi di kesejukan air pegunungan ini bisa meluruhkan capek, memberikan semangat baru buat jalan lagi....
Setelah puas berenang dan loncat-loncat kami ganti pakaian dan melanjutkan perjalanan pulang. Di sepanjang jalan kami masih penasaran sama desa yang terlihat dikejauhan, di kaki Gunung Sanger, kapan ya bisa kesana lagi. Dan lagian di kejauhan kami melihat sepertinya da curug di aliran sungai yang berada di perbukitan.... hmmmm makin penasaran.
Sampai di tempat motor yang diparkir, Revan melanjutkan perjalanan dengan naik motor sementara saya tetap jalan. Dan di sepanjang perjalanan tidak lupa mengabadikan pemandangan di depan mata.
Di salah satu spot, yang ada persawahan, saya mencoba mengambil poto, tapi harus mendaki lagi, gak terlalu tinggi sih tapi lumayan..... dan pemandangannya wah banget.....
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan turun sampai di pintu masuk (pertigaan) dan melanjutkan perjalanan naik motor sampai pertigaan Gunung Pancar untuk makan siang.

Dan perjalanan ini ditutup dengan makan jengkol.... :p.
See you at the next trip guys... jangan lupa bahagia....

Komentar

Postingan Populer